KAMPOENG KURMA JONGGOL, Part 1

PERCAYA ATAU TIDAK?

Percaya atau tidak, bahwa saat ini Indonesia telah menjadi salah satu perbincangan hangat oleh negara-negara di luar sana. Mengintip pada kekayaan Indonesia yang luar biasa, membuat negara lain terus menerus menempatkan posisinya masing-masing di dalam negeri ini.

Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan yang amat dahsyat, mulai dari tanahnya, sumber airnya, pepohonannya, sawah-sawahnya, gunung-gunung miliknya..

Saat ini, mungkin kita masih bisa menikmati sumber air, tanah yang subur, beras hasil dari petani kita sendiri, sayur-sayuran dari hasil bercocok tanam sendiri, dan masih banyak yang lainnya yang jika diuraikan tak cukup satu hari.

Namun lambat laun, mungkin saja semua yang kita lakukan sendiri kelak akan diambil alih oleh negara lain, sehingga yang kita lakukan hanya menjadi seorang pembeli dari hasil karya mereka di luar sana. Padahal kita tahu betul bahwa tidak ada yang mustahil segala sesuatu untuk diwujudkan di negeri yang kaya ini.

Sebagian hal sudah terjadi di negeri ini.

Kelak, saat hal demikian sudah sepenuhnya terjadi, maka yang kita lakukan adalah Menggigit jari.

Kita, pasti tidak ingin hal tersebut terjadi di negeri kita sendiri. Maka solusi terbaik dari masalah ini apa? Dan siapa? Apakah presiden harus sepenuhnya menjaga NKRI. Jika demikian saya katakan betul, karena beliau memang sudah seharusnya seperti itu. Namun, menurut pandangan saya sendiri, bahwa garda terdepan yang wajib menjaga NKRI adalah Masyarakatnya sendiri. Sehebat apapun kekuatan yang di miliki tidak akan berpengaruh jika yang melakukan hanya satu atau dua orang, namun kekuatan sekecil apapun yang kita miliki, namun saat semua bersatu untuk menyatu padukan kekuatan, maka percayalah, hal kecil tersebut akan berubah menjadi sesuatu yang besar.

AMANKAN TANAH KITA, DENGAN BERTANI

        Sebelum semua lahan di negeri ini di ambil alih oleh negara asing, maka amankan lahan kita dengan bertani, yang punya uang banyak silahkan beli tanah seluas-luasnya, jadikan sebagai modal usaha untuk merebut kembali seutuhnya negara kita. Bisa tidak? Percayalah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Bukankah mencintai negeri sendiri adalah sebagian dari iman. Maka lakukan yang terbaik untuk NKRI

RUBAH PEREKONOMIAN MUSLIM

Miris sekali saat kita melihat dan mendengar kabar duka dari saudara muslim kita di Rohingya, Syiria, dan sekitarnya. Yang habis-habisan disiksa, dan dibunuh. Tidak pandang perempuan atau laki-laki, anak-anak atau orang dewasa, mereka semua terus menerus menyiksa saudara kita tanpa rasa prikemanusiaan. Apakah kita akan diam saja? Setidaknya kita bantu dengan merubah perekonomian muslim, jika hal itu terjadi, maka tidak menutup kemungkinan kita dapat membantu saudara kita di sana.

BAGAIMANA CARANYA DAN APA SOLUSINYA?

selain berdoa, kita juga perlu berusaha. Mari kita bertani, menanam pohon kurma di negeri sendiri bersama kampoeng kurma jonggol, dengan lahan milik kita sendiri. Buka lahan seluas-luasnya, agar tidak ada kesempatan untuk negera lain mengambil alih lahan kita.

“Mengapa harus kurma?”

BERKERBUN KURMA SAMBIL INVESTASI, Aman, selalu untung, berkah dan syar’i.

Kurma adalah buah khusus yang tertulis didalam Alquran. Kurma banyak manfaat untuk kesehatan, buah kurma ini berasal dari timur tengah. Bahkan Rasulallah itu sangat gemar mengkonsumsi Air Naqi’ ; air rendaman (infused water) kurma/kismis. Kurma atau kismis di rendam dalam air masak semalaman (dalam wadah yang bertutup) dan diminum keesokan paginya. Air naqi’ ini merupakan kegemaran Rasulallah Shallallahu alaihi wasallam. Nabi merendam beberapa butir kurma di dalam air matang dalam wadah bertutup selama 12 jam.

Selain itu, Imam Bukhari dan Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah besabda : “Jika kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendaklah ia bergegas menanamnya”.

“Memang bisa ya Kurma tumbuh di Indonesia?” :

Berdasarkan literatur yang kami peroleh yang diterbitkan Badan Pangan Dunia PBB atau yang biasa kita kenal dengan FAO (Food and Agricultural Organization). FAO melakukan penelitian tentang kurma yang ternyata dari hasil penelitian tersebut, Indonesia adalah wilayah yang cocok untuk budidaya Pohon Kurma.

Kurma saat ini telah teruji bisa ditanam di daerah khatulistiwa. Rata-rata di Indonesia bisa mulai berbuah 4-10 tahun. Jika kita ingin melihat, mari berkaca dari Thailand.

“Apa saja yang ditawarkan Kampoeng Kurma Jonggol?”

  1. Investasi murah meriah kebun kurma, luas kavling 500m² harga sudah termasuk booking fee dan surat-surat
  2. Skema kredit 100% Syariah selama 1 tahun (tanpa riba, tanpa denda, tanpa akad-akad batil) sudah termasuk booking fee dan surat-surat
  3. Tanpa DP, tanpa Ribet
  4. Legalitas aman
  5. Sarana jalan minimal 6-12m
  6. Fasilitas lengkap :
  • Pondok Pesantren dan Masjid Tahfidzul Quran Gratis
  • Islamic Center
  • Gedung Serbaguna
  • Kolam Renang Terpisah Ikhwan/Akhwat
  • Sarana Olah Raga Berkuda
  • Sarana Olah Raga Memanah
  • Bumi Perkemahan Tahfidzul Quran
  • Pasar Rakyat
  • Kampus Enterpreneur, dll

Dan tahukah, bahwa pohon kurma mulai berbuah usia 4-10 tahun dan akan terus berbuah hingga usia 90-100 tahun.

 “Jadi apa yang saya dapat jika saya membeli kavling di Kampoeng Kurma Jonggol?”

  1. Tanah Kavling 500m²
  2. Free 5 Bibit Kurma Ajwa
  3. Free penawaran pohon kurma (sampai belajar berbuah)
  4. Free biaya SHM dan pajak
  5. Potensi income 30-90 juta pertahun, perpohon dari hasil kurmanya. Dalam salah satu penelitian, 1 pohon kurma yang berbuah sepanjang tahun bisa menghasilkan income sekitar 35juta/tahun atau sama dengan income 1 HA kelapa sawit. Dalam satu kavling terkecil yang kami tawarkan 500², bisa ditanami 12 pohon kurma. Itu berarti potensi incomenya sekitar 12x35jt = 420jt/tahun.
  6. Selain dari buah kurma yang dapat kita pasarkan, ternyata masih banyak hal lain yang mampu menjadi penghasilan dari pohon kurma ini. Antara lain adalah :
  • Batang Pohon : penggunaan utama batang adalah untuk kayu, yang pada hakekatnya tidak berkualitas tinggi karena ikatan pembuluh kasar (monocotolydon!) Tetapi memiliki kekuatan tarik yang besar. Penggunaannya Oleh karena itu diarahkan untuk mengeksploitasi karakteristik ini seperti untuk tiang, balok, kasau, palang, gelagar, pilar, dermaga dan jembatan kaki ringan. Untuk tujuan ini mereka dapat digunakan seluruhnya atau terbelah dua atau perempat. Cekung setengah batang digunakan sebagai saluran untuk air, atau panjang pendek untuk mangers dan palung. Digergaji menjadi papan kasar mereka dibuat menjadi pintu, jendela dan tangga untuk rumah

Furniture pedesaan juga telah dibuat meskipun trunkwood, karena struktur vaskular yang kasar, sulit untuk memotong, selesai dan cat. Selanjutnya batang digunakan secara luas dalam struktur pendukung untuk mengangkat air baik itu di kincir air Mesir, yang Sakiyeh atau pada hewan ditarik mengangkat air dari sumur terbuka. Dan akhirnya, batang juga digunakan sebagai kayu bakar.

  • Daun
  • Bunga Jantan
  • Pollen dilaporkan untuk meningkatkan kesuburan.
  • Spathe juga dapat direbus dan suling menghasilkan cairan yang digunakan untuk penyedap minuman panas atau dingin dan juga efektif sebagai pencernaan
  • Tandan kosong, untuk membuat tali yang lebih kuat
  • Getah Kurma
  • Getah daun adalah obat untuk kegelisahan, gangguan ginjal dan luka busuk dan menenangkan gelembung darah benih Burnt dibuat dalam salep untuk borok atau collyrium yang menghasilkan bulu mata yang panjang.
  • Obat-obatan
  • Tunas terminal oleh petani Saharian sawit atau penggunaan serbuk sari untuk meningkatkan kesuburan di Mesir (kuno).
  • Secara medis, direkomendasikan dalam mencuci mulut (aplikasi paling mungkin disukai oleh seorang dokter gigi masa kini); sebagai obat pencahar atau di gynaecologically terkait intervensi, membentuk bagian dari berbagai salep, perban dan resep pada mata dan Plinius melaporkan: “, diterapkan dengan quince, lilin dan saffran ke perut, kandung kemih, perut dan usus, menyembuhkan memar”
  • Peneduh dan hiasan lingkungan

TRENDS DAN PROSPEK

  • Daya tarik wisata.
  • Buah kurma dan produk turunannya sebagai komoditi masa depan
  • Kebutuhan kurma di Eropa, USA, dan sebagian besar wilayah di dunia meningkat.
  • Penyelamatan lahan dari proses gurunisasi dan antisipasi pemanasan global.
  • Industrialisasi kebun kurma untuk memenuhi kebutuhan pangan, bahan baku industri kebutuhan rumah tangga dan bioethanol masa depan.

Mereka yang mulai berinvestasi, tidak sekedar berinvestasi. melainkan turut serta membantu peradaban islam, melahirkan generasi-generasi penghafal Alquran dari fasilitas pesantren Tahfidz yang menjadi fasilitas di Kampoeng Kurma Jonggol. memulai satu langkah untuk merubah perekonomian umat islam di Dunia. Berusaha mewujudkan lingkungan yang penuh dengan Sunnah. 

JADILAH BAGIAN DARI MEREKA! 🙂 

Note : 0857-5906-7712

Pengabdian Sederhana

LANGIT TIDAK AKAN SELALU SAMA

Seperti layaknya cuaca, terkadang jalan hidup selalu tidak menentu, tidak tahu akan berujung sesuai yang diharapkan atau malah sebaliknya. Kita hanya mampu memprediksi dugaan-dugaan yang mungkin saja salah. Kita hanya bisa berkhayal, lalu kembali menikmati sebuah kenyataan.

Tapi inilah roda kehidupan yang telah terancang dengan baik, apa yang kita dapat adalah sesuai dengan usaha yang telah kita lakukan. Banyak orang yang terlena dengan mimpi-mimpinya, hingga lupa cara untuk mewujudkannya. Banyak orang sibuk menceritakan tentang sebuah mimpi besar dalam hidup mereka, hingga mereka lupa untuk menunjukannya kepada setiap orang.

Sama halnya seperti aku, wanita dengan sejuta mimpi yang besar, hidup dengan imajinasi, menikmati dan menanti waktu menunjukan seperti apa masa depan itu. Baik atau buruk. Kesibukan yang terbilang aneh. Menanti masa depan tanpa melakukan perubahan.

Langit seakan sendu siang itu, aku hanya menatap pilu pada selembar amplop coklat yang ku genggam. Sebuah mimpi yang telah ku perjuangkan, namun kalah dengan sebuah takdir. Hebat bukan?

Aku menyeka keringat berkali-kali. Ah bukan, sepertinya ini hanya tetes air mata atas sesaknya sebuah kenyataan yang harus dijalani. Layaknya siswa lainnya, aku pun memiliki mimpi untuk bisa merasakan bangku perkuliahan, tentunya di universitas yang selalu menjadi perbincangan hangat diantara siswa-siswa lainnya.

Tiga hari berlalu, tidak ada lagi kesempatan bagi ku untuk mewujudkan mimpi besar setelah lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas.

“Sudah tidak bisa, semua berkas sudah masuk ke universitas” kata guru yang saat itu menjelaskan panjang lebar tentang keterlambatan ku mengumpulkan berkas persyaratan.

Ya, beberapa bulan setelah ke lulusan sekolah. Aku mendapatkan beasiswa di universitas ternama, tentunya itu adalah tempat yang telah ku nanti-nanti sejak dulu. Aku selalu membayangkan hebatnya aku saat menggunakan almamater di universitas tersebut.

Satu langkah menuju garis finish. Ya, bisa dikatakan seperti itu. Tuhan mengubah jalan yang hampir saja ku dapatkan, Ia membuat mimpi hebat ku seakan hancur begitu saja. Padahal sejatinya, Ia hanya sedang menunjukan satu jalan yang luar biasa.

Kegagalan yang membuat ku tidak ingin lagi memimpikan bangku perkuliahan, aku mulai fokus terhadap sebuah pekerjaan. Saat itu, pekerjaan apapun ku jalani. Boleh jadi, ini adalah pengalihan dari rasa kecewa yang luar biasa.

Bayangkan saja, ketika kita akan menggapai sebuah mimpi yang sudah terlihat di depan mata, yang sudah kita perjuangkan sejak lama. Namun  tiba-tiba gagal hanya karena satu alasan, entah alasan itu penting atau tidak. Tapi kegagalan tersebut terkadang akan membuat kita menjadi pribadi yang tidak sama. Dan pada saat aku berada di posisi tersebut, aku menyerah dan berhenti. Tidak lagi mencoba.

WISHES

Bagaimana pun itu, sebesar apapun kekecewaan yang dirasa. Hebatnya, hati selalu membangkitkan semangat untuk tetap bangkit. Terutama, Tuhan mulai mengirimkan orang-orang yang terus menyemangati, memberikan nasihat dan motivasi. Sejujurnya, hal itu memang tidak berpengaruh cepat terhadap diri, namun lambat laun hati akan luluh menerima.

Satu tahun berlalu, rasa kecewa tidak sesakit dulu. Namun tetap saja, terkadang rasa takut atas kejadian tersebut selalu saja hadir kembali, meniciutkan nyali yang belum mantap.

“Rasa takut itu alami, ia akan ada pada diri setiap manusia. Hanya saja, rasa takut bisa kita atasi dengan, melawannya!”

Dan aku, mulai kembali menyusun setiap mimpi, dengan baik.

DREAMS BOOK

Masih terlalu ragu untuk memulai kembali dengan mimpi-mimpi besar, adalah kesalahan terbesar dalam hidup ku. Saat itu, aku hanya merancang semuanya secara umum, tidak runtut seperti tempo lalu. Padahal, Tuhan tidak pernah melarang kita untuk bermimpi dengan hebat.

“Punya mimpi jangan ketinggian, jalani saja apa yang ada”

Entah mengapa, aku membenci kata-kata tersebut. Bagiku, kata tersebut hanya pantas di ucapkan oleh orang-orang pecundang.

Kata pepatah, bermimpilah dengan tinggi, agar saat kau terjatuh, kau terjatuh diantara bintang-bintang.

HIDUP ADALAH KENYATAAN BUKAN HAYALAN

Lari dari sebuah kenyataan, lalu hebatnya aku dihadapkan dengan kenyataan baru. Terkadang, permasalahan selalu membantu kita untuk menemukan satu cerita luar biasa di dalam kehidupan.

Aku mulai memasuki bangku perkuliahan, bisa dikatakan ini adalah hal yang biasa saja. Tidak menyenangkan, tidak membanggakan. Itulah hal-hal yang selalu ku pikirkan. Belajar sekedarnya, kuliah, lulus, dan bekerja. Tidak  ada hal yang lebih berkualitas.

Saat setiap mahasiswa berlomba-lomba menciptakan prestasi di awal perkuliahan, aku malah sebaliknya. Bermalas-malasan, tidak perduli mengerti atau tidaknya sebuah mata perkuliahan. Setiap hari, yang ku lihat dari mereka adalah semangat menggebu tentang prestasi, prestasi yang di ukur dari segi nilai. Dan aku, tidak tertarik akan hal itu.

Seperti orang yang rugi, duduk dan mengisi absen, lalu pikiran tidak pernah ada di tempat, seakan ia mewujud layaknya Ruh yang kehilangan jasad. Terbang kesana kemari, mencari-cari solusi agar hidup tidak selamanya berjalan seperti ini.

Perlahan, Tuhan mulai mengirim kembali jalan atas permasalahan yang tidak pernah bisa aku pecahkan. Jalan yang hebat yang membuat ku akhirnya berfikir dan bersyukur.

MOVE ON, JADILAH PRIBADI YANG BARU

Pada akhirnya, aku pergi dan tidak sekedar menanti jawaban atas permasalahan. Aku mencoba mencari solusi, menangkan diri, menjauh dari lingkungan yang tidak ku sukai. Perjalanan di mulai, aku hanya tersenyum lega saat memutuskan untuk meninggalkan bangku perkuliahan sementara waktu, tidak perduli akan hancurnya nilai-nilai ku. Yang ku tahu, bahwa diri ku tidak boleh membeku dalam keadaan.

Tuhan selalu adil, Ia memberikan solusi saat kita berusaha mencari, Ia menunjukan jalan dengan cara yang indah, tanpa kita sangka dan tanpa dapat kita duga. Ah iya, saat itu aku hanya di kelilingi hawa nafsu tentang gengsi, berfikir fatal tentang sebuah kesuksesan. Mengukur kesuksesan hanya dengan ukuran nominal uang, dengan lingkungan yang berkwalitas menurut pandangan ku.

Lari dari kehidupan yang tidak ku sukai, memulai cerita baru dengan menjadi seorang guru muda, tepatnya sebagai seorang relawan di salah satu sekolah dasar yang letaknya di desa pesisir pantai Yogyakarta. Bisa dikatakan, aku adalah orang yang sedikit keras kepala. Jika dilarang, maka akan aku lakukan. Sama halnya sepeti saat ini, semua orang melarang ku untuk pergi atas alasan-alasan yang tidak jelas, tapi dengan begitu semangat ku untuk menuai cerita baru seakan menggebu.

SENYUM SEMANGAT

“Selamat pagi bu guru cantik, sudah sarapan hari ini?” kata seorang murid, sebut dia nanda, anak yang tidak pernah absen menyapa ku setiap pagi.

“Sudah dong, kamu sudah sarapan?” kataku kepadanya.

“Sudah, seperti yang bu guru katakan, bahwa membiasakan sarapan akan baik untuk kita. Ya kan?” ia kembali bertanya kepadaku.

“Betul sekali, masih ingat syaratnya apa?”

“Tidak boleh terlalu banyak, secukupnya. Karena yang berlebihan itu tidak baik hehe” nanda mengulang perkataan ku tempo lalu.

Aku tertawa mendengar perkataannya, rasanya saat ia memanggilku dengan sebutan “Bu Guru”, seakan hati ini tidak ikhlas mendengarnya. Bagaimana mungkin seorang yang lari dari kenyataan dikatakan sebagai Guru, padahal saat itu aku hanya menjadikan mereka sebagai pelarianku saja. Jahat sekali bukan.

Saat itu, senyum mereka mempengaruhi cara berfikir ku tentang kehidupan. Bagaimana pun, suka atau tidak, kehidupan harus tetap dijalani dengan sebaik-baiknya.

MEREKA

Bahagia mereka, adalah saat dimana mereka masih bisa melihat ku. Itulah kata yang ku dengar dari murid-murid ku. Aku hanya diam, termenung memikirkan kalimat sederhana namun memiliki banyak makna. Bagaimana mungkin seorang pengecut seperti ku mereka jadikan sumber kebahagian.

SIAP-KAH KITA?

Bukan lagi tentang persoalan mimpi-mimpi yang gagal, tapi tentang bagaimana kita akan meneruskan lagi mimpi baru, mimpi yang lebih hebat. Jalan yang di lalui akan tetap sama, hanya saja ceritanya yang akan berbeda.

Terkadang, kita terlena dengan sebuah pencapaian, hingga kita lupa terhadap proses yang ternyata menjadikan kita berbeda. Pencapaian bisa disebut dengan bonus atas usaha yang dilakukan.

SESUATU YANG KECIL NAMUN BERNILAI BESAR

Keikhlasan terkadang mampu meluluhkan hati, sama halnya seperti yang mereka lakukan, mereka menunggu, mereka bahagia, mereka menanti-nanti waktu-waktu bersama ku. Atas keikhlasan tersebut, mereka meluluhkan hati yang begitu di kuasai oleh hawa nafsu.

Aku mulai mencintai mereka, memikirkannya, menanti pagi agar dapat kembali berjumpa. Menikmati sore dengan berjalan-jalan di sebuah pantai. Aku bercerita banyak tentang ku, dan mereka bahagia mendengarnya. Lalu, aku menceritakan lingkungan ku. Dan mereka bermimpi agar bisa menjadi seperti ku.

Aku terdiam, mendengar mimpi-mimpi mereka, yang mereka katakan ingin seperti ku. Ah, tetap. Kamu harus lebih baik, menjadi seorang pemberani, tidak seperti ku, yang selalu lari dari sebuah masalah.

NEW DAY

Pagi yang indah, saat aku masih bisa memanfaatkan sisa waktu dengan mereka. Terhitung hanya satu bulan saja aku mengajar di desa ini.

“Bu guru, ini adalah ladang sayur milik warga setempat. Disini juga ada ladang milik bapak ku” kata natalia, seorang murid kelas 3 SD, ia menunjuk pada salah satu lahan.

“Kamu suka bantu bapak disini?” kata ku kepada natalia.

“Aku hanya melihat bapak, kata bapak aku tidak boleh turun melakukan pekerjaan bapak”

“Kenapa?”

“Tidak tahu hehe. Nah nanti kalau bu guru mau sayur, bilang saja ya. Akan ku bawakan gratis untuk bu guru”

“Oh ya, bu guru harus foto disini. Buat kenang-kenangan” Ia langsung saja meminta kamera yang ku genggam, memotret ku berkali-kali, setelah itu ia tersenyum lebar dan berkata bahwa saat aku kembali ke jakarta, aku harus kembali untuk mengunjunginya lagi, nanti.

STORY

“Bu guru, setiap tahun selalu ada persembahan makanan untuk penghuni laut disini. Aku selalu senang jika ada acara itu, pantai akan menjadi ramai, air akan kembali naik, bu guru harus bisa menikmatinya nanti, di jakarta tidak ada yang seperti ini kan?”

PANTAI DEPOK, YOGYAKARTA

Kerinduan terbesar, adalah saat ternyata waktu untuk kita sudah selesai. Tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi ceria, tidak dapat lagi mendengar debur ombak yang seakan menjadi merdu, mengiringi gelak tawa kita di pantai Depok, Yogyakarta.

Bola dengan lihainya menari-nari diatas pasir, kita ikut bersorak gembira, dan aku memotret kalian dari balik kesedihan atas akan terjadinya perpisahan. Pada saat itu aku mengetahui, bahwa kalian pun adalah sumber semangat ku kini.

TRUE?

“Bu guru, saat aku besar nanti. Aku akan menjadi sepertimu. Menggunakan jilbab, menjadi periang dan mengajar di desa plosok. Hati-hati ya, jangan lupa terus kirimkan kabar untuk kami, tapi bisa tidak kalau bu guru tinggal disini saja hehe?” katanya kepada ku.

“Ya, kamu harus lebih hebat dari pada aku oke. Gigi mu sering sakit bukan, jadi jangan lupa gosok gigi ya. Nanti jika aku menemuimu lagi, gigi mu sudah bagus”

“Siap, aku tidak akan lupa gosok gigi lagi” Ia membenarkan posisinya dengan sikap sempurna.

LONG LIFE LEARNER

Dari sini, aku mengerti tentang hal yang harus selalu aku syukuri. Saat aku merasa bahwa hidup teramat pilu untuk ku, tapi pada kenyataannya diluar sana lebih banyak orang yang mengharapkan berada di posisi ku.

Aku tidak ditakdirkan untuk menikmati bangku perkuliahan dengan jurusan khusus yang akan membawa ku menjadi seorang guru. Tapi inilah hidup, akan selalu ada kejadian yang tidak pernah kita sangka. Seperti halnya saat ini, Tangan Tuhan bekerja untuk mewujudkan sebuah cita-cita mulia “Menjadi Seorang Guru”. Ia memberi ku kesempatan hebat pada saat aku lari dari sebuah kenyataan, Tuhan mengajarkan ku banyak hal dalam moment ini. terutama tentang cara untuk terus bersyukur atas segala karunia dari-Nya.

Saat kita tidak mampu menjadi orang-orang hebat yang menggratiskan biaya pendidikan, yang membelikan mereka baju-baju baru, atau mainan-mainan baru, maka tetap berikan mereka semangat yang tiada artinya. Terkadang, dengan mudah mereka akan melupakan tentang materi yang kita berikan, tapi semangat dan motivasi akan mempengaruhi mereka pada jangka yang panjang, hal kecil menghasilkan sesuatu yang besar. Motivasi.

I’M YOURS

Aku ingin mengukir kata “Maaf“ untuk mereka. Tentang keterlambatan ku menyadari bahwa moment kita ini sangat berharga. Mereka mengajari ku banyak hal. Membuat ku akhirnya sadar, bahwa hidup bukan hanya tentang menjalani hal-hal yang kita sukai. Tapi, ada bagian yang tidak kita sukai namun harus tetap kita jalani dengan sebaik-baiknya. Karena kita tidak pernah tahu, hal mana yang akan membawa perubahan baik dalam kehidupan, hal yang kita sukai, atau sebaliknya.

SENI KEHIDUPAN

Ini adalah sebuah seni dalam kehidupan. Ketika senyum dan tawa mampu mewarnai hari. Ketika kebersamaan mampu mencairkan suasana yang hampa. Mereka bilang, aku memberikan kebahagiaan untuk mereka, memberikan warna pada pagi hari. Tanpa mereka sadari, bahwa mereka lah jembatan awal perubahan ku.

ORANG YANG BERILMU DAN TIDAK BERILMU

“Bu Guru, aku bosan untuk belajar. Apa lagi belajar matematika“ kata mereka kepada ku.

Lalu, aku menceritakan tentang dua orang yang berilmu dan tidak berilmu. Menjelaskan bahwa di masa depan, kita tidak akan terus bergantung pada orang tua. Aku mengulas sedikit tentang mimpi, tentang cita-cita dan tentang usaha untuk mencapainya.

Dan mereka senang mendengarkan apa yang ku ceritakan, lalu mereka memutuskan untuk tetap belajar. Itulah hebatnya mereka, selalu memiliki cara agar aku mampu menghadapi apapun lebih sabar lagi. Mereka memperlihatkan bahwa hidup bukan hanya tentang ku saja, tapi juga tentang mereka.

FEEL

Anak kecil itu tidak akan pernah berbohong. Saat mereka senang, maka mereka akan menunjukannya. Dan saat mereka bersedih, mereka juga akan menunjukannya.

SAAT AKU MEMUTUSKAN, MAKA AKU HARUS MENYELESAIKANNYA DENGAN BAIK

Katanya prestasi ku akan turun saat aku terjun untuk menjadi seorang relawan guru muda di daerah pesisir pantai. Tapi hari itu, aku membuktikan, bahwa dengan berbagi tidak akan mengurangi hal-hal tentang kita.

Prestasi ku melesat, aku tidak hanya mendapatkan nilai-nilai baik, tapi juga mendapatkan pengalaman hebat, dan pembelajaran berharga. Selain itu, dimulai dari sini aku memulai perjalanan ku menjadi seorang penulis baru.

Aku mencintai sastra sejak kecil, menikmati dan membuatnya. Selain menjadi guru, aku pun bermimpi menjadi seorang penulis hebat, walau pun Tuhan belum mengantarkan ku pada masa tersebut.

Namun, siapa yang akan menduga jika perjalanan ini ternyata mengantarkan ku untuk berkarya. Terhitung setelah pengabdian ku menjadi seorang guru, aku mulai menikmati perkembangan baik dari karya ku. Mulai dari lomba-lomba yang ku ikuti tentang kepenulisan. Kemudian pencapaian atas terbitnya satu buah buku sebelum umur ku menginjak pada usia 20 tahun. Dan yang terpenting adalah, aku berjumpa dengan para penulis lainnya.

Karya pertama ku memberi banyak pembelajaran, aku menerima banyak masukan dari para pembaca, aku senang mendengarnya, lalu berusaha mengkoreksi cara penulisan ku setiap waktu.

Aku terus berjalan, meraih banyak penghargaan pada tahun 2015 yang lalu, terus belajar untuk mengembangkan cara penulisan ku. Semua itu tidak lain berawal dari pelarian semata, namun Tuhan nyatanya ingin membantu ku menemukan jalan yang telah lama ku telusuri.

HANYA DIA

Bagi-Nya, tidak ada yang tidak mungkin. Selama kita yakin, maka selama itu pula apa yang kita inginkan akan berjalan baik, bukan tanpa ujian, pasti akan ada pembelajaran-pembelajaran hebat.

Hidup akan terus berjalan, sekali pun kita menyerah. Hidup akan terus berputar cepat, tidak perduli kita tertinggal jauh atau tidak. Maka, berusahalah dengan baik, karena boleh jadi, semangat mu adalah semangat mereka, bahagia mu adalah bahagia mereka.

Aku mulai mengerti, bahwa hidup tidak  selalu memberikan kita tentang hal yang kita cintai, tapi kita perlu belajar untuk mencintai setiap hal yang terjadi dalam hidup kita. Aku mulai menyadari, bahwa ujian akan membuat kita kuat dalam menghadapi kehidupan selanjutnya. Karenanya, aku bersyukur masih diberikan sebuah masalah yang akhirnya memberikan ku banyak sekali pembelajaran.

Sebuah cerita singkat dari Perjalanan  yang dimulai tahun 2014,  Lokasi SDN Sono Yogyakarta, Kretek Bantul.            

Bermimpilah Dik, At Yogyakarta

Flashback, mengenang masa lalu. Tentang sebuah cerita yang disajikan dengan hangat kedalam kertas kosong, bertuliskan kata-kata sederhana yang berharap mengandung banyak makna. Tangan mungil itu masih saja sibuk memainkan keyboard bergambar doraemon pada handphone miliknya. Handphone yang berumur kurang lebih satu tahun tiga bulan dua hari yang ia beli saat pertama kali mendapatkan gaji pertama sebagai karyawan swasta.

Gadis berjilbab sederhana itu sebut saja rain. Dengan tinggi tubuhnya sekitar 160 centimeter, dan berat badan 55 kilogram. Ia masih terus sibuk memantau layar handphone yang sedari tadi ramai oleh grup-grup miliknya. Sembari terus menunggu kabar yang membuat ia nyaris tak bisa tidur tiga hari tiga malam, ia langsung saja membuka koper merah yang letaknya tidak jauh dengan rain. Lemari berukuran sedang yang terbuat dari kayu jati ia buka. Tangan kanannya sibuk memindahkan baju-baju yang akan ia masukan kedalam koper merah miliknya. Dan tangan kirinya sibuk mencoret list peralatan yang akan ia bawa.

4 N-O-V-E-M-B-E-R 2014

Kisah bersejarah pun dimulai. Dengan sigap rain mulai menenteng koper merah miliknya. Koper yang akan menemaninya selama satu bulan dalam perjalanan yang begitu berkesan, perjalanan yang pertama kalinya rain lakukan selama ini. Rain adalah salah satu mahasiswa semester awal di universitas swasta kota bekasi.

“Hallo mah, mah rain mau berangkat nih. Mau nitip oleh-oleh apa.” Percakapan yang terjadi antara rain dengan ibunya melalui telepon genggam.

“rain, kamu tuh baru mau berangkat. Pulang aja masih lama” celetuk ibu rain.

“hehehe rain lupa”

“Rain ayoooooooooooooooo!!! Kereta sebentar lagi berangkat” teriak arin dari jauh, arin adalah sahabat rain yang sama-sama akan memulai perjalanan dengan rain.

“mah rain berangkat ya, mama hati-hati dan jaga kesehatan. Assalamualaikum” telepon pun berakhir, rain segera lari menemui tiga orang teman yang sudah menunggu rain sedari tadi. Ada arin, nandito, dan juga andre.

Jam ditangan tengah menunjuk pada angka 14.00 wib, tepat siang itu rain dan teman-temannya telah berada didalam gerbong kereta KA bengawan jurusan pasar senen – lempuyangan. Tujuan rain dan teman-temannya adalah kota Yogyakarta, Kretek Bantul untuk memulai cerita dengan singkat selama 30 hari. Tas-tas besar dan koper milik mereka mulai tersimpan rapih diatas rangkaian besi yang berada dikereta. Andre dan nandito duduk sedikit jauh dengan rain dan arin. Sedangkan arin dan rain duduk bersebelahan dengan dua keluarga kecil yang membawa anak-anaknya.

Keramaian yang terjadi didalam kereta pun dimulai saat pertama kali kereta meniupkan peluitnya sebagai tanda bahwa kereta akan segera melesat pergi meninggalkan stasiun awal. Keramaian akibat mesin-mesin dan obroln-obrolan hangat yang terjadi didalam kereta.

Rain hanya asik memandang jendela kereta, menyaksikan kota demi kota akhirnya ia tinggalkan. Stasiun demi stasiun mulai terlampaui, perlahan kereta pun menjauh dari kota dengan sejuta polusi dan kesibukan. Ketenangan mulai terasa, kesejukan mulai merasuk kedalam jiwa saat kereta mulai memasuki stasiun brebes. Dimana banyak sekali sawah berhektar-hektar yang menghiasi pemandangan kota tersebut.

“ada yang hampir kita lupakan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Syukur kepadaNya. Tentang keindahan dan ketenangan yang ia berikan kedalam jiwa. Tentang alam yang indah. Tentang langit yang begitu luas tanpa ada tiang-tiang yang menopangnya. Ciptaan yang begitu sempurna, tanpa ada cacat didalamnya. Hanya ada tangis bahagia ketika kita sadar, bahwa dunia ini hanya titik dari indahnya Syurga. maka bersyukurlah untuk bahagia yang tak pernah bisa diungkapkan”

            Fotret alam pun rain abadikan dengan kamera kecil miliknya, rain hanya tersenyum ketika menyaksikan semua keindahan alam yang tersaji secara gratis ini. Senja mulai menguning, burung berterbangan memainkan melodi-melodi indah dengan kicauan-kicauannya, bersaut dengan burung-burung yang lain, para petani mulai merapihkan cangkul-cangkul miliknya. Bergegas pergi meninggalkan aktivitas.

Bumi mulai gelap, hiasan lampu-lampu sederhana berjajar rapi disetiap sudut kota dan desa. Suara kodok dan jangkrik tak terdengar akibat mesin kereta yang nyaris membuat pendengaran rain bising dibuatnya.

Pukul 21.31 Wib, kereta siap berhenti distasiun lempuyanagan. Tujuan dari segala harapan dan cita-cita yang rain genggam dari keberangkatannya dikota asal, ada yang hendak ia ekspresikan selama satu bulan nanti, yaitu sebuah perubahan kecil yang berharap akan merubah sesuatu yang besar.

Tas dan koper perlahan mulai diturunkan satu persatu oleh andre, andre adalah salah satu penanggung jawab dalam perjalanan selama satu bulan kedepan. Langkah kaki mulai turun, meninggalkan tempat duduk yang nyaris tak menyisakan apapun. Keluar dan kemudian memandang indah tulisan megah yang terhias oleh cahaya lampu “Selamat Datang di Kota Yogyakarta”.

 

E-K-S-P-E-D-I-S-I 27 D-E-S-A P-E-S-I-S-I-R

Rain dan ketiga kawannya tadi adalah salah satu dari sekian puluh para mahasiswa yang bergabung kedalam kegiatan yang diadakan oleh kampus miliknya. Kegiatan mengabdi disekolah-sekolah pesisir selama satu bulan lamanya. Kegiatan yang akan mengajarkan banyak hal kepada rain. Mengajarkan arti berbagi, arti memberi dan arti saling melengkapi. Rain terpilih menjadi salah satu mahasiswa yang akan mengajar disekolah pesisir daerah Yogyakarta, tepatnya dikota kretek bantul.

Hari dimulai, dengan bekal yang tidak terlalu memadai, rain dan teman-temannya tetap berusaha memberikan yang terbaik. Maklum saja, mereka bukan berasal dari jurusan khusus untuk menjadi guru, jadi tentu saja cara mengajar mereka akan sedikit berbeda dengan mahasiswa yang pada dasarnya terlahir sebagai sarjana pendidikan.

Almamater kebanggan mulai rain gunakan, kerudung sederhana mulai ia rapihkan, dengan celana hitam berbahan katun yang ia gunakan, ia siap melangkah maju untuk memulai hari bersama anak-anak sekolah desa pesisir.

Pagi yang begitu indah, hijau gunung terlihat begitu jelas, ramainya bangku sekolah dasar oleh anak-anak yang berusia 7 sampai dengan 12 tahun. Langkah kaki rain mulai tertuju pada satu kelas, yaitu kelas III sekolah dasar yang menjadi tempatnya bertugas untuk satu bulan kedepan. Dan rekan-rekan rain yang lainnya menjalankan tugas yang sama dikelas yang berbeda. Gemetar kaki rain melangkah, saat semangat anak-anak membuat rain nyaris berlutut menangis.

“Selamat pagi adik-adik yang cantik dan ganteng” teriak merdu rain di depan ruang kelas III.

“Pagi kakak” sambut hangat dari mereka bocah-bocah kecil yang begitu semangat memulai hari demi hari.

Perkenalan pun dimulai, rain mulai mempresentasikan dirinya kepada adik-adik kelas dengan gaya bahasa sederhana yang membuat murid kelas III nyaris terhipnotis oleh rain. Berbagai permainan rain berikan untuk mengawali hari pertama mereka. Hari dimana semua terkenang begitu mendalam didalam kepala anak-anak murid kelas III sekolah dasar.

Sesekali rain menyelipkan berbagai motivasi dari permainan yang rain beri, yang membuat semua anak-anak murid dikelas tersebut membuat berbagai mimpi. Mimpi-mimpi yang akan menjadikan mereka besar. Mimpi-mimpi yang akan membawa mereka kedalam kehidupan yang sesungguhnya. Mimpi-mimpi yang mereka tulis kedalam satu kertas yang rain ajarkan kepada mereka dengan kata “DREAMS BOOK”.

Satu persatu mereka mulai menulis satu persatu mimpi, mimpi yang nyaris membuat rain menangis. Mimpi yang indah, yang tertulis dari tangan-tangan tak berdosa, dari tangan-tangan mungil yang mengharapkan keadilan dari negeri ini. Keadilan untuk mereka yang hidup diplosok kota, yang jauh dari telepon genggam, yang jauh dari globalisasi yang sekarang nyaris membuat anak-anak seumuran mereka dikota sana sibuk memainkan gadget. Hey, lihat anak-anak ini. Mereka asik menuliskan berjuta mimpi diatas kertas yang hampir sobek akibat hujan yang mengguyur beberapa hari lalu. Hujan yang membuat atap sekolah mereka bocoh.           

“kakak, aku bercita-cita ingin menjadi dokter boleh tidak kak?” celetuk salah satu murid berumur 8 tahun bernama asiyah.

boleh sekali sayang, kamu tulis semua cita-citamu apapun itu ya” jawab rain dengan bola mata yang berkaca-kaca.

“bagiku, mimpi adalah jembatan hangat yang Tuhan berikan untuk semua hambaNya. Mimpi yang masih bisa diciptakan oleh siapapun, kalangan apapun, tak memandang jabatan dan ekonomi. Mereka, adik-adik kecil dengan sejuta semangat dan sejuta mimpi begitu banyak mengajariku arti bersyukur yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin mereka tak mengeluh dengan fasilitas sekolah yang seadanya ini. Sedangkan diluar sana, banyak mereka yang membuang waktu dan mengabaikan fasilitas pendidikan yang jauh lebih baik.

            Mimpi itu, jembatan indah yang diciptakan oleh semua anak-anak muridku disini. Mimpi yang membuat mereka semangat pergi kesekolah. Mimpi yang mereka jadikan tombak sebagai alat menuju masa depan.

            Bermimpilah dik, kau akan sampai pada mimpimu”

            Ada yang berteriak dan bertanya setelah menuliskan mimpi-mimpi diatas kertas miliknya. Sebut dia dengan dena, murid laki-laki berumur 8 tahun yang memiliki saudara kembar yang kini duduk disampingnya.

“kak, kalau sudah buat mimpi. Apa yang harus aku lakukan buat wujudin mimpi ini” pertanyaan polos dari dena. Dengan nada yang begitu lembut rain menjawab ;

“dengarkan apa kata kakak ini ya, setelah kalian menulis semua mimpi ini. Kakak mau kalian memasang mimpi-mimpi kalian ditembok kamar kalian. Baca setiap hari setiap kalian ingin pergi kesekolah dan kemana pun. Dan jangan lupa berdoa, agar Tuhan mengabulkan dan mewujudkan mimpi-mimpi kalian. Jangan lupa belajar dengan tekun dan ulet ya. Mudah bukan?.” Jelas rain kepada murid-murid kelas, dan mereka bersorak gembira atas penjelasan mudah yang rain jelaskan kepada mereka. Karena hal tersebut menurut mereka adalah hal yang mudah dilakukan, sehingga mereka siap untuk mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

***

Hari terus berlalu, semua yang terbaik telah rain berikan kepada mereka. Hingga akhirnya tak terasa waktu pun berakhir. Pengabdian di desa kretek bantul yogyakarta telah berakhir. 30 hari berlalu begitu cepat. Berlalu dan terlewati dengan banyak sekali aktivitas yang rain, arin, nandito dan andre berikan untuk pendidikan di desa kretek. Rasa cinta dan kasih tumbuh dihati mereka, murid-murid yang pernah rain ajarkan tentang mimpi, tentang bagaimana cara mewujudkan mimpi tersebut, tentang alam, tentang Tuhan, tentang semua yang ada dibumi. Dan mereka mulai mencintai rain layaknya kepada seorang kakak yang tak pernah bosan mengajarkan adik-adiknya.

Hari terakhir mengajar, lebih kepada perpisahan. Hari ini sekolah membebeaskan kita mahasiswa untuk memberikan acara-acara yang sudah kita persiapkan sejak awal. Tepat pukul 12.30 wib, setelah sholat dzuhur, rain mulai memasuki ruang kelas III. Ruangan yang dulu begitu ramai dan ceria kini menjadi hening, dan sunyi. Hanya ada isak tangis yang terdengar dari murid-murid yang telah tahu bahwa hari ini rain akan kembali pulang ke kotanya. Dari keheningan tersebut, rain kembali meminta kepada murid-murid untuk menuliskan lagi mimpi-mimpi barunya, mimpi-mimpi yang akan membuat mereka menjadi pribadi yang luar biasa dikemudian hari.

“bermimpilah sesukamu” terngiang kata sederhana dibenak murid-murid yang kini sibuk menulis mimpi mereka dengan tulisan-tulisan yang dibuat seindah mungkin, nyaris tak percaya; saat perlahan rain membaca mimpi-mimpi mereka, mimpi-mimpi mereka telah berubah setelah satu bulan rain mengabdi sebagai guru di sekolah pesisir ini.

“aku ingin seperti kak rain. Sekolah di kota, pakai seragam dari kampus, dan menjadi guru yang menyenangkan”

“aku ingin seperti kak rain, yang selalu menyuruhku semangat belajar, dan selalu mengajarkanku tentang indahnya bermimpi”

“aku ingin seperti kak rain, setiap lihat kak rain, aku semangat”

“aku ingin seperti kak rain, yang nanti akan mengajar di kota orang lain”

“aku ingin seperti kak rain, yang selalu ceria, lucu, cantik dan terus memakai jilbab cantiknya”

Mimpi-mimpi yang mereka tulis membuat rain terdiam dan menangis, memeluk satu persatu dari mereka. Memberikan sejuta semangat untuk mereka, memberikan isyarat kepada mereka bahwa kelak mereka harus menyusul rain kekota besar, ibu kota jakarta. Sesuai mimpi mereka.

“memberi tak harus dengan materi, semangat yang kau beri akan berdampak besar terhadap siapapun yang menerimanya. Memberi tak harus dengan materi, kau tersenyum ikhlas pun akan membuat pengaruh besar terhadap jiwa seseorang. Memberi tak harus memiliki segalanya, apa yang kau punya. Berikan. Kau punya semangat, kau punya cerita indah dan kau punya Tuhan yang akan tetap mencukupimu untuk tetap memberi”

“Tuhan akan memberikan hasil terbaik jika kau melakukan sesuatu dengan usaha maximal dan doa”

“hargai waktu yang ada, Kau akan menuai hasil yang indah walau tercipta dari kata-kata sederhana”

“bersyukurlah, maka dengan bersyukur Tuhan akan terus menambah nikmatmu”

“bermimpilah setinggi-tingginya, karena saat kau terjaut. Kau terjauh diantara bintang-bintang”.

Sejuta rindu untuk murid-murid ku di desa kretek bantul Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIODATA PENULIS

 

 

Nama               : Riana Ratno Juwita

TTL                 : Purwakarta, 21 Juli 1995

Alamat                        : Kp. Cilampahan RT05/02 Des. Sukajaya Kec. Sukatani

Kab. Purwakarta Jawa Barat

No HP             : 0857-5906-7712

E-mail              : RianaratnojuwitaSGM@yahoo.com

Judul               : Bermimpilah, dik.

Travel Story : Rock Climbing, Badega Gunung Parang Purwakarta

Hidup itu akan selalu bertemu dengan sebuah tantangan hebat, dan pada saat kita mampu melewati tantangan tersebut, kita akan bertemu dengan satu hal yang luar biasa di dalam hidup kita.

Berbicara soal tantangan, berarti berbicara juga tentang hal-hal yang akan menguji adrenalin kita. Ternyata, munguji adrenalin tidak hanya terjadi dalam kehidupan biasa, namun bisa di lakukan dalam salah satu olah raga yang akan membuat kita benar-benar merasakan sensasi luar biasa.

Rock Climbing – Badega Gunung Parang, kali ini saya mendapat tantangan dari salah satu teman saya yang selalu memaksa agar ditemani menuju tempat panjat tebing yang katanya terdengar bahwa panjat tebing di Badega Gunung Parang Purwakarta, adalah panjat tebing yang masuk kedalam urutan 10 (sepuluh) besar tebing tertinggi alam di Dunia. Wow.

Jujur saja, tempat ini sudah menarik perhatian saya sejak jauh hari. Singkat cerita, akhirnya saya memutuskan untuk segera berkunjung dan menikmati tantangan hebat disana. Sebelum melakukan perjalanan untuk menuju Badega Gunung Parang Purwakarta, saya lebih dulu melakukan pendaftaran atau konfirmasi kehadiran kesalah satu pemandu panjat tebing di Gunung Parang via media sosial. Sebut saja dia si-akang.

Di Gunung Parang, kita bisa melakukan petualangan dengan hiking, lalu bisa juga melakukan uji adrenalin dengan melakukan rock climbing melalui via ferrata, dan bisa juga mengenal budaya dan adat istiadat sunda disana, tepatnya di kampung Cihuni, Desa Sukamulya Kec. Tegalwaru, Kab. Purwakarta – Jawa Barat.

PERJALANAN

Dari mana pun arah berangkat kita, jika tujuannya adalah Gunung Parang, maka pastikan kita berhenti di Ciganea Purwakarta. Saat itu perjalanan sudah di mulai, saya berangkat bersama dua rekan saya. Sesampai di ciganea, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pasar Plered dengan menumpangi angkutan umum berwarna hijau, tarif Rp. 8.000/org. Lalu dilanjutkan kembali dengan menumpangi mobil Kijang (angkutan khusus ke Gunung Parang), tarif Rp. 13.000/org.

Perjalanan menuju lokasi kurang lebih satu jam, selama perjalanan kita akan di suguhi panorama pedesaan yang masih asri, dedaunan yang hijau, pemandangan sawah berhektar-hektar, gunung-gunung lain yang terlihat lebih dekat, pemandangan para penggembala sapi dan kerbau. Indah bukan? Sangat indah, karena hal ini sudah jarang kita lihat.

Sesampai di lokasi, kami bergegas melakukan pendaftaran di salah satu saung, disana terdapat dua orang petugas yang bersiap memerintah kita untuk mencatat data diri singkat (tentunya memerintah dengan sikap yang sangat santun).

Kami yang sudah lama tidak menikmati kesegaran alam sangat senang saat tiba di lokasi, disana terdapat kolam ikan khusus memancing, terlihat sawah berhektar-hektar, lalu di tempat yang tidak jauh terdapat para pendaki yang sudah memasang tenda untuk bermalam di sana. Selain itu, sebelum masuk ke tempat berikutnya, di sana juga tersedia mushola sederhana yang terbuat dari bale bambu. Ada pula tiga kamar mandi kecil sebagai fasilitas lainnya. Yang menarik dari kamar mandi disana adalah, ada satu tulisan yang di pajang di tembok-tembok kamar mandi ; “Hanya monyet yang  boleh buang sampah sembarangan” perlu di ingat, HANYA MONYET. hehe

Kami diarahkan untuk berjalan ke saung berikutnya, saung yang lebih besar, disana terdapat pengelola yang kemudian menyambut kami dengan hangat, mereka menjelaskan bahwa di saung tersebut kita bisa memesan makan, minum teh manis hangat atau sekedar ngopi-ngopi cantik untuk menunggu giliran memanjat, karena pada saat itu, jalur panjat tebing sangat penuh.

“Mau via ferrata ya neng?” kata pengelola di saung tersebut.

Via Ferrata adalah taraje beusi atau tanjakan besi yang akan kita coba.

“Iya pak, hehe”

“Sudang konfirmasi ke siapa?”

“Ke kang baban (pemandu kita)”

“Oh kang baban nya masih diatas, neng tunggu saja di saung atas sambil selonjoran”

Kita pun segera berlari menuju saung yang sudah disediakan oleh pengelola. Sejauh mata memandang. Di saung, kami sangat menikmati udara segar pedesaan, selain itu disini juga ternyata masih banyak sekali monyet-monyet yang berkeliaran (mereka tidak mengganggu, selama kita tidak mengganggu juga).

TARAJE BEUSI (VIA FERRATA)

Sekitar satu jam kita menunggu, akhirnya kita mendapat giliran untuk segera melakukan kegiatan Rock Climbing, mulanya kita diberi harness (Perangkat yang terbuat dari tali yang kuat yang biasanya memiliki sabuk pinggang empuk dan lubang untuk kedua kaki, terhubung di depan dan dibelakang, yang digunakan untuk mengamankan tali bagi pemanjat). Carabiner (yang digunakan mengaitkan tubuh pada kawat baja). Lanyard Arm (tali yang menghubungkan carabiner dengan  Energy Absorber yang berfungsi meredam tegangan tali (Lanyard arm) jika kita terjatuh. Helm dan Sarung Tangan. Kemudian, kita diarahkan menuju tower tiga dengan melakukan pendakian terlebih dahulu, dan wow jalanan yang vertical saat proses pendakian menuju tower membuat kami sedikit kehabisan napas. Hihi.

Waktu yang dihabiskan sekitar 30 (tiga puluh) menit, sampailah kita di tower tiga. Gunung Parang memiliki 3 tower, yaitu tower I tinggi jalur panjat sekitar 700 meter. Tower II, sama halnya dengan tower I. Sedangkan tower III terlihat lebih tumpul dan landai.

Tap-tap kita mulai melakukan via ferrata secara perlahan. Dan sangat di sayangkan saat itu awan mulai gelap, langit mulai menjatuhkan air hujan sedikit demi sedikit, sehingga terkadang saat melakukan panjat tebing saya hampir terpleset akibat sepatu yang saya gunakan sedikit licin saat terkena air.

Via Ferrata adalah olah raga yang sangat menguji adrenalin kita. Terutama Via Ferrata di Badega Gunung Parang Purwakarta. Bagaimana tidak? Saat kita mulai menaiki anak tangga, kita seakan seekor cicak yang menempel di tembok.       Keindahan tergambar jelas saat saya memberanikan diri untuk memandang diatas ketinggian 300 meter, sawah berhektar-hektar, gunung-gunung lainnya, rumah penduduk, jalan raya yang bermula besar seakan menciut menjadi kecil. Udara semakin segar, terutama saat hujan mulai turun.

Mulanya, rasa takut nyaris membuat saya ingin menyerah saat perjalanan masih terbilang jauh. Untuk menuju ketinggian 500 mdpl melalui via ferrata di Gunung Parang, kita akan menghabiskan waktu sekitar 2 (dua) jam lebih, dengan ketinggian yang bukan main-main. Namun, berkat pemandu yang super sabar, kang baban terus mendorong kita untuk sampai di ketinggian 500 mdpl. Kami patuh dan terus berjalan, sesampai di ketinggian 500 mdpl kita seakan takjub dengan panorama yang luar biasa, kata salah seorang wisatawan disana, Purwakarta memiliki karakter tersendiri.

Gunung Parang atau Gunung Batu memiliki ketinggian total 963 meter dari permukaan laut. Dengan di apit oleh dua bendungan terbesar di Indonesia, yaitu Bendungan Cirata dan Bendungan Jatiluhur. Menurut masyarakat setempat Gunung Parang ini berkaitan dengan legenda Nyai Ronggeng, Ki Pat Tinggi, Ki Jonggrang dan Mbah Jambrong, dan beberapa lainnya, dan masing-masing legenda tersebut saling terkait dan akhirnya berujung pada Kerajaan Padjajaran.

Setelah selesai melakukan rock climbing, kita segera diminta untuk membayar biaya Via Ferrata, Rp. 100.000/org. selain itu kita juga ditawarkan untuk melakukan panjat tebing ulang di lain hari saat cuaca cerah (musim kemarau) tanpa biaya.

PERJALANAN PULANG

Karena hari sudah gelap, dan jarang sekali ada angkutan yang siap mengantar kami kembali ke pasar Plrede. Akhirnya kami diajak untuk gabung bersama rombongan lain yang membawa kendaraan pribadi.

TIPS MELAKUKAN ROCK CLIMBING

  1. Pastikan anda sedang fit
  2. Jangan gunakan sepatu yang beralas licin, karena akan sedikit membuat anda merasa berbahaya
  3. Usahakan tidak makan 1 jam sebelum melakukan rock climbing
  4. Usahakan pemanasan terlebih dahulu sebelum melakukan rock climbing

 

WAJIB DI INGAT!!!

  1. Jangan menyerah, sesuatu yang luar biasa tidak bisa di dapatkan hanya dengan usaha yang biasa-biasa saja
  2. Exis boleh, tapi keselamatan diri jauh lebih utama

 

Travel Story, Gunung Bongkok Purwakarta

Akhir-akhir ini, dunia maya sedang ramai oleh para backpacker dan petualang yang sibuk mengunjungi berbagai tempat wisata, terutama tempat wisata yang selalu berkaitan dengan alam sangat menarik perhatian mereka.

Gunung adalah salah satu tempat yang saat ini sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat, dari yang mulanya hobby nongkrong di mall, kini berpindah haluan tempat tongkrongan yang menarik adalah Gunung atau Bukit.

Berbicara tentang Gunung, para petualang dan pendaki pastilah tidak asing lagi saat mendengar kata “Gunung Bongkok”. Ya, sebuah gunung atau bukit dengan ketinggian 975 mdpl yang terletak di Purwakarta Jawa Barat, tepatnya di desa Cikandang, Sukamulya.

Juli 2016, saya dan kedua rekan saya berkunjung ke tempat yang saat ini menjadi incaran para pendaki, baik perempuan mau pun laki-laki, baik yang di dalam kota, atau pun di luar kota.

Bermula dari perjalanan kami menuju Gunung Bongkok, meet point kami saat itu adalah terminal bekasi, dengan menumpangi bus tujuan Purwakarta. Karena kami masuk kedalam daftar backpacker. Kami memutuskan untuk menumpangi bus tanpa ac, pastinya dengan tarif ongkos yang terbilang sangat murah. Yaitu Rp. 10.000/org.

Perjalanan sangat kami nikmati, walau pun bau rokok terkadang mengganggu indra penciuman kami, tapi hal tersebut tidak membuat niat kami untuk mengunjungi Gunung Bongkok hilang sedikit pun.

Kurang lebih 3 (tiga) jam, bus sampai di tempat pemberhentian akhir daerah Purwakarta, yaitu Ciganea. Kami segera turun dan bergegas melanjutkan perjalanan kami dengan menumpangi angkot berwarna hijau tujuan pasar Plered, tarif ongkos yang berlaku saat itu adalah Rp. 8.000/org.

Sesampai di pasar Plered, kami pun terus melanjutkan perjalanan, terlebih matahari sudah mulai menyembunyikan sinarnya. Dari pasar Plered kami langsung menumpangi angkutan umum dengan tujuan Gunung Bongkok, angkutan disini berupa mobil kijang. Tarif yang berlaku menuju Gunung Bongkok saat itu adalah Rp. 10.000/org. Keunikan dari angkutan ini adalah ia tidak akan berangkat jika angkutan belum penuh, saat itu karena kami hanya berjumlah tiga orang, alhasil kami harus sabar menunggu sampai angkutan penuh. Kurang lebih 20 (dua puluh) menit waktu yang di habiskan. Selama perjalanan menuju Gunung Bongkok, kita akan disajikan dengan nuansa pedesaan, seperti pemandangan para pegembala sapi atau kerbau, lalu pemandangan sawah berhektar-hektar, hal ini akan semakin terlihat indah saat memasuki waktu panen, dimana padi berubah warna menjadi kuning ke-emasan.

Sesampai di lokasi, kami di arahkan untuk melakukan registrasi terlebih dahulu, biasanya warga setempat memberi tahu arah petunjuk jalan menuju tempat registrasi pendaki Gunung Bongkok, sebetulnya disana juga sudah disediakan papan petunjuk arah, namun saat itu kami tidak melihatnya, mungkin karena sudah lelah di perjalanan hehe.

Sekitar 15 menit berlalu, kami tiba ditempat registrasi pendaki Gunung Bongkok. Tanpa pikir panjang, kami segera mendaftarkan diri dengan melampirkan satu buah kartu tanda pengenal (KTP) ke petugas registrasi, selain KTP kami juga wajib membayar tarif wisata Gunung Bongkok, yaitu Rp. 10.000 (sangat murah kan hehe).

Saat itu, kami sedikit ragu untuk melakukan pendakian, terlebih hari sudah mulai gelap, dan jalan menuju puncak Gunung Bongkok pun bercabang, kami khawatir akan tersesat didalam sana, sehingga kami memutuskan untuk menunda pendakian sampai besok pagi. Disana, kami bermalam di sebuah warung yang letaknya tidak jauh dari tempat registrasi tadi. Oh ya, setelah registrasi, kami mendapatkan bukti pembayaran yang di lengkapi dengan nomor handphone pengelola Gunung Bongkok, katanya “jaga-jaga jika terjadi sesuatu saat proses pendakian”.

Kami mulai menikmati malam dengan segelas susu coklat panas yang kami pesan dari penjaga warung. Saat kami santai, beberapa rombongan pendaki lain datang dan melakukan registrasi. Bedanya, rombongan yang baru datang tadi langsung melakukan pendakian saat hari mulai gelap, tujuannya supaya mereka bisa melihat keindahan sunrise di Puncak Gunung Bongkok.

07.00 wib, cuaca pagi ini sangat cerah, kami segera memutuskan untuk melakukan pendakian, dengan melewati jalanan yang masih sedikit datar dan terbilang aman. Sekitar 30 (tiga puluh) menit, kami sampai di pos pertama yaitu pos Munclu, pos munclu memiliki lahan yang cukup luas, sehingga disana banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda. Selain itu, di pos munclu terdapat beberapa saung untuk pendaki yang tidak membawa tenda namun ingin bermalam disana.

Setelah melewati pos munclu, track pendakian langsung menampakan jalanannya yang terjalal dan licin. Dan saat proses pendakian, kami bertemu kembali dengan rombongan yang kemarin malam langsung melakukan pendakian, saat kami tanya, ternyata mereka belum sampai ke puncak karena tersesat, mereka bercerita bahwa jalurnya tidak terlihat saat di malam hari, untunglah saat itu saya dan kedua rekan saya lebih memutuskan untuk bermalam saja. Akhirnya, kami memutuskan untuk melakukan pendakian bersama rombongan mereka juga, terlebih rombongan mereka pun berasal dari Bekasi.

Pendakian kami lakukan sekitar 1,5 jam. Dengan berkali-kali istirahat karena jalur yang kami lewati terbilang terjal dan licin. Selain itu, beberapa jalur sangat berdekatan dengan jurang, yang mulanya kami berniat mengabadikan perjalanan saat proses pendakian, karena melihat situasi yang tidak memungkinkan dan sangat berbahaya, akhirnya kami mengurungkan niat kami.

Beberapa titik terbilang sangat berbahaya, seperti misalnya di ketinggian 700, 800, dan 950 mdpl sangat terjal, hampir mencapai 90 derajat. Saat itu juga, saya hampir terpeleset dan jatuh, untunglah rombongan pendaki lain segera membantu dan menyodorkan tangannya untuk menarik satu persatu pendaki yang lainnya, agar tidak mengalami hal yang sama.

Jalanan yang terjal dan licin hampir membuat kami menyerah, saat itu kami memutuskan untuk menghentikan pendakian dan kembali lagi ke pos awal, namun saat hendak turun, tiba-tiba terdengar suara sorak diatas sana, saat kami lihat, ternyata puncak Gunung Bongkok sudah terlihat. Kami langsung bergegas melanjutkan perjalanan, saat menuju puncak, jalanan semakin sulit, namun kami terbantu oleh adanya tali yang disediakan oleh pengelola Gunung Bongkok.

Gunung Bongkok, menyajikan dua puncak untuk kami, yaitu puncak bantu tumpuk dan puncak datar. Saat itu, kami tidak sabar dan segera menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu, yang menghubungkan jalur pendakian dengan puncak batu tumpuk.

And than, sesaat setelah kami sampai, kami terpesona oleh panorama yang disajikan oleh Gunung Bongkok, hamparan waduk jatiluhur yang luas dan indah, dan kami juga bisa melihat puncak batu parang diatas ketinggian 975 mdpl Gunung Bongkok.

Awan-awan kecil menghiasi panorama indah Gunung Bongkok, hal yang kami lakukan saat itu adalah mengabadikan keindahannya, lalu menikmati makanan ringan yang kami bawa saat tiba di puncak.

Rasa lelah yang terbayar mewah saat kita melakukan pendakian di Gunung Bongkok, beruntungnya kami saat itu adalah cuaca sangat cerah, sehingga keindahan dibawah sana tidak tertutup oleh kabut. Karena jika hujan turun, tidak menutup kemungkinan jalanan akan semakin licin dan keindahan diatas puncak akan tertutup oleh kabut.

Saat kami sedang santai, salah satu pendaki lain menceritakan tentang sejarah Gunung Bongkok, kalau di lihat, sepertinya beliau asli orang Purwakarta sama seperti halnya saya. Namun bedanya, saya tidak menetap setiap hari di Purwakarta. Hehe.

Menurut cerita yang beliau tuturkan, Konon katanya bahwa Gunung ini bisa menjadi Bongkok akibat di duduki dalam kurun waktu yang lama oleh Jongkrang Kalapitung, menurut mitos warga setempat Jongkrang Kalapitung adalah seseorang yang memiliki kesaktian meloncati gunung demi gunung, mulai dari Gunung Cupu, kemudian Gunung Parang dan Gunung Bongkok. Gunung Bongkok adalah salah satu gunung yang menjadi tempat saat Jongkrang Kalapitung sedang memancing di danau Jatiluhur. Saat itu saya dan kedua rekan saya berpikir keras, tentang alat mencing yang di gunakan oleh Jongkrang Kalapitung, pasti sangat besar dan kuat. Hehehe

Lalu, ia juga menunjukan tapak kaki besar di dekat puncak datar, tapak kaki besar itu adalah milik Jongkrang Kalapitung, semua rombongan melihatnya, namun saya dan kedua rekan saya tidak bisa melihat karena puncak mulai ramai dan puncak  hanya mampu menampung 30 pendaki saja.

Sebetulnya, tidak cukup untuk kita menikmati keindahan di Puncak hanya beberapa menit saja, tapi karena pendaki lain sudah berdatangan, tentunya kita harus adil dan mengalah, memberikan kesempatan untuk pendaki lain agar dapat melihat keindahan yang luar biasa.

Kami segera turun saat itu, dengan membawa kembali sampah-sampah yang berserakan. Lucunya, saat turun kami lebih memilih untuk bermain prosotan dari pada bergelantung di tali yang sudah di sediakan, kami pikir bahwa dengan prosotan akan lebih cepat sampai, tapi ternyata korbannya adalah baju kami yang di hiasi oleh tanah merah. Hehe.

Sesampai di warung yang letaknya dekat dengan tempat registrasi, kami segera memesan 3 (tiga) butir kelapa muda untuk menghilangkan dahaga di kerongkongan kami. Disana, selain kelapa, mereka juga menyediakan sate maranggi yang menjadi makanan primadona kota Purwakarta.

TIPS MENDAKI GUNUNG BONGKOK

  1. Atur Jadwal Pendakian

Gunung Bongkok saat ini sedang menjadi incaran para pendaki karena keindahannya. Karena itu, untuk kalian yang ingin mendaki Gunung Bongkok, aturlah dengan baik jadwal pendakian. Usahakan lakukan pendakian pada hari kerja, karena saat libur kerja dan libur nasional para pendaki akan membludak mengunjungi Gunung Bongkok. Jika seperti itu, jangan harap bisa berlama-lama di atas Puncak. Hehe.

  1. Lihat cuaca saat hendak mendaki

Lakukan pendakian saat musim kemarau, jalanan tidak telalu licin, dan keindahan puncak Gunung Bongkok akan terlihat jelas. Jika cuaca sedang tidak bersahabat, jangan memaksakan kehendak untuk tetap mendaki ya gusy, berbahaya.

  1. Bawalah penutup kepala, atau sejenisnya.

Di puncak Gunung Bongkok, banyak sekali binatang semacam serangga yang berterbangan dan sedikit mengganggu kenyamanan kita. Maka, sediakan penutup kepala untuk melindungi dari sengatannya. Dan gunakan baju berlengan panjang, hal ini adalah surplus untuk para pendaki cantik yang berjilbab.

  1. Mendakilah bersama-sama

Jadilah pendaki yang ramah dan menyenangkan, menawarkan bantuan atau sedikit air mineral untuk pendaki lain yang kehausan, hal itu akan membantu kamu saat proses pendakian nanti.

  1. Mengejar Sunrise di Gunung Bongkok

Sunrise selalu menjadi primadona di Gunung Bongkok. Tidak sedikit dari kita yang berusaha mendaki saat malam hari untuk menikmati keindahan sunrice.  Tapi jika benar-benar tidak memungkinkan melakukan pendakian di malam hari, jangan di paksakan ya guys. Khawatir tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Hihi. See You on The Next Trip Guys!

WAJIB DI INGAT!!!

  1. Gunung bukan-lah tempat sampah, Bawa turun kembali sampah anda dan sampah yang ada disekitar anda
  2. Exis boleh, tapi tetap utamakan keselamatan anda
  3. Jangan memaksakan untuk mendaki jika fisik tidak fit
  4. Dilarang keras bermaksiat di Gunung, jadikan pendakian anda sebagai sarana tafakur alam semesta untuk mengagungkan ciptaan-Nya.
  5. Jangan merokok di Gunung
  6. Jangan mengambil apapun yang ada disana
  7. Jangan mencorat-coret bantu di Gunung, ketika anda melakukannya itu artinya anda adalah salah satu orang yang berencana merusak alam dan ciptaan-Nya.

TENTANG BEIJING, DAN KITA

Aku masih saja duduk santai menunggu waktu penerbangan pesawat  yang ku tumpangi dengan tujuan Jakarta – Beijing, waktu tempuh yang dibutuhkan adalah 6-7 jam langsung tanpa transit di Negara atau kota lainnya.

Beijing merupakan kota terbesar kedua di Tiongkok setelah Shanghai dari segi populasi perkotaan dan merupakan pusat politik, budaya dan pendidikan Negara. Bejing adalah kota markas dari sebagian besar perusahaan BUMN terbesar Tiongkok dan pusat utama jalan raya nasional, jalan tol, jalur kereta api, dan jaringan rel kereta cepat.

Sejarah kota Beijing dimulai sejak tiga millennium yang lalu. Sebagai ibu kota yang terakhir dari Empat Ibu Kota Kuno Agung Tiongkok, Beijing telah menjadi pusat politik Negara selama delapan abad yang lalu. Kota ini, terkenal dengan istana, kuil, taman, kebun, makam, tembok dan gerbang, dan pusaka seninya serta Universitas telah membuatnya menjadi pusat budaya dan seni di Tiongkok. Dan ini adalah perjalanan pertama ku menuju tempat pusat budaya dan seni di Tiongkok, yaitu Beijing.

Beberapa bulan yang lalu, aku mendapatkan sebuah tawaran hebat dari salah satu penerbit besar di Negara ku, tawaran untuk menuai cerita tentang hebatnya kota Beijing, terutama tentang seni dan budayanya yang terbilang adalah pusat di dunia.

Awalnya aku menolak tawaran ini, karena bisa dikatakan bahwa ini adalah tawaran hebat yang ku terima sebagai seorang penulis pemula dengan prestasi karya pertama ku yang naik berkali-kali kepercetakan.

“Kamu suka tantangan bukan, inilah saatnya untuk menguji seberapa hebat kemampuan mu!kata rum kepada ku tempo lalu, saat aku bercerita tentang tawaran ini.

“Bagaimana jika aku gagal rum, tabungan ku akan habis untuk mengganti semua biaya selama aku di Beijing nanti”

“Itu artinya, setelah kamu mencoba, kamu tidak boleh gagal!”

Ya, itulah kata-kata rum yang membekas dalam ingatan ku.Yang membuat ku akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran ini. Selain itu, sejak kecil aku sudah berikrar untuk tidak bekerja seperti teman-teman ku pada umumnya. Mereka dibuat sibuk dengan rutinitas senin sampai dengan jum’at untuk menghabiskan waktu di kantor, menghabiskan waktu mulai dari pukul 09.00 wib sampai dengan 17.00 wib, berpakaian resmi setiap harinya, lalu menikmati malam dengan beristirahat setelah bekerja seharian. Entah mengapa, saat teman-teman ku bercita-cita menjadi pegawai tetap disebuah perusahaan ternama, aku malah sama sekali tidak berselera tentang hal itu.

Dulu, dalam benak ku hanya satu hal yang ku pikirkan. Saat aku bekerja, aku dapat menikmati waktu seperti layaknya aku sedang berlibur, tanpa terikat dengan waktu yang ditetapkan secara khusus. Aku selalu membayangkan hal itu setiap hendak tidur, dan menceritakannya pada bapak.

“Tidak usah muluk-muluk, jadi PNS saja sudah menjamin hidup mu”

Itulah kata yang selalu bapak lontarkan setiap kali aku bercerita tentang mimpi-mimpi ku, dan saat aku mendengar hal itu, seakan semangat ku bangkit lebih hebat dari biasanya. Setiap bapak berpikir bahwa dengan menjadi PNS adalah hal terbaik dalam hidup, maka pada saat itu pula aku selalu berjanji untuk tidak menjadi seorang PNS. Mungkin sebagian orang akan berpikiran hal yang sama dengan bapak, lalu sebagian lagi akan ada juga yang berpikir sama seperti diri ku. Itulah hebatnya pemikiran manusia, selalu tidak sama. Dan masing-masing tentu memiliki alasan tersendiri.

“Ladies and gentelmen, Well come aboard XXX Indonesia on flight number TX1201 destination to Bejing. The commander of this flight is Capten Budi, assisted by frist officer Ayu Mustika and I am Lisa your supervisor flight attendant today. Flying to Beijing will take 7 hours and 25 mnts. For safety reason your luggage must place at underneath the seat in front of you or in an overhead bin. Please take your seat and pasten your seat belt and also make sure your an emergency exit” kata seorang pramugari.

Aku segera bersiap saat pesawat akan segera terbang mengantarkan para penumpang pada tempat tujuannya. Cuaca sangat cerah, membuat samudra menjadi sangat indah, aku memandang dengan teliti setiap keindahan yang ku saksikan dengan dua bola mata.

“Ah ini baru dunia, entah seperti apa surga-Nya” gumam ku dalam hati.

Lalu, saat aku menikmati keindahan samudra, tiba-tiba aku teringat tentang perkataan rum tempo lalu.

“Kalau saja tiba-tiba jodoh mu datang, apa yang akan kamu lakukan?” kata rum kepada ku.

“Ah yang benar saja jodoh ku datang secara tiba-tiba” aku menyangkal perkataannya.

“Hey siapa bilang jodoh tidak bisa datang tiba-tiba. Kamu pikirkan saja tentang niat mu yang tidak ingin berpacaran. Lalu memutuskan untuk merasakan ta’aruf saja nanti. Bisa saja ada seorang laki-laki yang datang menemui ayah mu dan melamar mu” jelas panjang lebar rum kepada ku.

Aku hanya menghela nafas, lalu menyeka keringat yang mulai bercucuran. Entah kenapa, setiap kali rum berkata tentang jodoh, jantung ku seakan berdegup kencang, bukan tentang kegugupan mengenai jodoh ku nanti, hanya saja rawut wajah bapak yang sedikit menyeramkan selalu membuat nyali ku ciut untuk membahas tentang jodoh kepadanya.

Bercerita soal bapak, aku selalu ingat dengan anak-anak ayam yang bapak pelihara, lalu saat mereka tumbuh menjadi induk ayam, dengan gesit ibu akan memotongnya tanpa sepengetahuan bapak. Aku selalu berpikir, bapak dan ibu memiliki sifat yang sangat berbeda, tapi mereka bisa mempertahankan sebuah keluarga hingga adzal menjemput mereka.

Tiba-tiba aku mulai melirik kearah sekitar ku, memperhatikan tiap-tiap penumpang yang ada didalam pesawat, mungkin saja jodoh ku ada di pesawat ini. Haha.

 

***

12 Desember 2008, pertama kali dalam sejarah aku menginjakan kaki di kota Beijing untuk menuai sebuah cerita, yang entah akan berhasil atau malah sebaliknya. Aku mulai menyusuri tiap-tiap sudut tentang Beijing, menanyakan banyak hal kepada pemandu ku bernama Dea, seorang wanita muda asal Indonesia yang kemudian pindah dan menetap di Beijing karena ikut dengan suaminya. Cerita tentang kehidupan Dea sangat menarik, terutama tentang pertemuan ia dengan suaminya di kota ini.

Inikah yang dinamakan takdir, jalan yang sudah tertulis, sejauh apapun kaki melangkah, jika sudah waktunya untuk bertemu dan bersama, maka tidak akan ada yang mampu untuk menghalanginya, seperti halnya Dea dan Niko, pasangan suami istri yang menikah pada usia 21 (dua puluh satu) tahun.

“Indonesia dan Beijing, cerita mu sangat menarik dee” kata ku setelah mendengar cerita dea.

“Ya, sebagian orang mungkin tidak akan percaya tentang perjalanan kami. Tapi inilah kehidupan, yang terkadang ada saja hal-hal yang tidak pernah kita sangka-sangka”

“Kita sudah sampai” Dea menunjuk kearah sebuah bangunan.

Aku terdiam, seakan takjub dengan bukti sejarah yang masih berdiri kokoh. 300 tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Islam sudah dibawa jauh sampai ke Beijing, Tiongkok. Masjid yang berumur 1.000 tahun dapat dilihat oleh banyak wisatawan yang berkunjung ke kota Beijing. Dan saat ini, aku tidak sekedar mendengar cerita tentang Masjid Niu Jie.

Masjid Niu Jie adalah masjid terbesar di kota Beijing, terletak di Niu Jie Stret, sebuah kawasan muslim di tengah kota Bejing. Arsitektur masjid ini terbilang sangat mirip bangunan-bangunan Tiongkok pada umumnya, mulai dari tiang-tiang bangunan yang mempertahankan budaya khas Tiongkok, dan temboknya yang memiliki warna merah lengkap dengan cat biru, hijau dan emas di bagian atas  tiang. Tetapi tetap memiliki nuansa-nuansa Arab dan Persia pada bagian dalam.

Selain itu, terlihat pula tulisan kaligrafi di papan-papan di atas pintu masuk. Ada yang bertuliskan “Assalamualaikum” dan “Bismillahirrohmannirrohim” yang terpampang di bangunan masjid.

Selain masjid Niu Jie, aku pun diajak mengunjungi beberapa tempat lainnya yang menarik, seperti halnya taman Beihai, taman Jingsang, tembok besar Cina, istana terlarang, danau Shichahai, dan Istana musim panas. Ah, aku tidak pernah menyangka bahwa pekerjaan ku akan semenyenangkan ini. Rasanya, setiap langkah kaki di kota Beijing, seperti banyak sekali ribuan kata-kata yang mulai tersusun rapih dalam ingatan.

“Tempat mana yang paling kamu sukai?” kata Dea kepada ku sembari menikmati sore dengan segelas kopi panas buatannya.

“Hmm, Danau Shichahai dan Istana Musim Panas” kata ku sembari sedikit membayangkan keindahannya.

Istana musim panas, istana yang dibangun di dekat danau buatan seluas 300 hektar, disekitar istana juga ditanami pepohonan hijau. Selain itu, istana ini juga dibangun di dekat perbukitan, sehingga posisi danau, istana dan bukit menjadi segaris lurus. Menurut filosofi orang Tionghoa, posisi ini akan membawa keberuntungan tersendiri.

Shichahai menghadirkan sebuah danau menakjubkan di tengah Bejing, danau besar yang memiliki pemandangan indah dan unik. Sebuah esai terkenal, yang ditulis di zaman kuno, mengatakan bahwa selama musim semi danau Shicahahai akan terlihat seperti danau barat di Hangzhou. Danau ini memiliki luas sekitar 147 hektar, dibalut dengan pemandangan perbukitan yang mengelilinginya.

“Aku akan mengunjungi Beijing lagi, untuk kembali menikmati sunset di danau Shicahahai dengan orang yang akan menjadi bagian dari pada cerita ku” kata ku kepada Dea sembari tersenyum kecil.

 

***

Tiga bulan berlalu, rasanya rindu ku terhadap kota Beijing seakan memuncak. Pagi yang cukup cerah, aku mulai bersiap merapihkan naskah ku, naskah yang akan menentukan berhasil atau malah sebaliknya. Tapi, setelah menikmati langsung kota Beijing, aku tidak akan pernah menyesal jika kemudian aku gagal.

“Untuk mu” kata rum kepada ku, sembari menyodorkan map coklat berukuran sedang.

“Apa?”

“Seorang pria datang menemui kami tempo lalu, ia bermaksud melamar mu. Dan ini data dirimiliknya”

Rum adalah keponakan ku, ia sangat hapal betul semua tentang ku. Setelah bapak dan ibu tiada, aku memutuskan untuk hidup dengan paman dan bibi. Keduanya sudah seperti orang tua ku sendiri, dan rum sendiri sudah ku anggap sebagai adik kesayangan ku.

“Seorang pilot pada penerbangan pesawat XXX  Indonesia dengan tujuan Jakarta – Beijing”

Aku terdiam seribu bahasa saat membaca profil milik laki-laki tersebut, laki-laki yang bermaksud untuk melamar ku. Lalu ku amati foto miliknya, dan ku baca berkali-kali semua tentangnya yang tersusun rapih pada selembar map berwarna coklat.

Tapi inilah kehidupan, yang terkadang ada saja hal-hal yang tidak pernah kita sangka-sangka”

Benar kata Dea, sebagian orang mungkin tidak akan pernah percaya pada jalan hidup yang kita lalui, dan saat ini aku mengerti tentang hal yang terkadang banyak orang berkata “Tidak mungkin”.

 

***

“Buku mu sudah terbit dek, selamat ya” terdengar suara khas dibalik telepon genggam milik ku.

Budi, seorang laki-laki yang saat ini menjadi bagian dari pada cerita ku. Ia menemui keluarga ku, dan menceritakan semua tentangnya. Jujur saja, semua di luar dugaan. Aku selalu mengira bahwa separuh cerita ku ada pada orang-orang terdekat, seperti misalnya teman sekolah dulu, atau teman satu perkuliahan. Tapi ternyata, orang tersebut adalah orang yang sama sekali tidak aku kenal.

Pagi itu, setelah rum memberikan data diri miliknya, aku membacanya dan terkejut saat mengetahui bahwa ia adalah seorang pilot pada penerbangan pesawat ku tempo lalu dengan tujuan Beijing.

Di dalam data diri miliknya, ia menceritakan secara runtut tentang pertemuan kita di bandara. Bahkan, jika di ulas kembali, aku tidak akan pernah mengira semua tentangnya, karena pada saat itu ia hanya bagian hal yang sama sekali tidak ku perhatikan.

“TENTANG BEIJING, DAN KITA –  judul buku yang menarik untuk di baca. Argh, rasanya aku ingin segera berlibur untuk membaca karya mu” suaranya terdengar kembali dari balik telepon. Aku masih saja diam sembari tersenyum kecil.

“Kerja dulu, saat kamu pulang. Akan ku ceritakan langsung kepada mu” kata ku pada budi.

“Baiklah, kalau begitu aku akan focus sekarang. See you at our kingdom

Telepon pun terputus, sedangkan aku masih saja memandang hasil karya ku. Sebuah nama singkat terpajang dengan baik pada sampul novel ku yang baru saja terbit. Tania Loka, atau lebih beken dengan nama pena Ten.

 

Karya : RRJ (Riana Ratno Juwita)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TENTANG BAPAK

Aku ingin menuai kisah, yang telah abadi dalam memori ingatan ku, yang setiap detik selalu ku rindukan sosoknya, bahkan dalam setiap doa namanya tak pernah absen mengisi malam demi malam saat aku bercumbu dengan Sang Maha Pencipta.

Kita memulai hari melalui sinar matahari yang menerobos masuk kedalam celah jendela, dalam lantunan suara burung yang kian merdu, dalam kehangatan pagi bersama satu gelas teh manis hangat milik kita. Baginya, teh manis hangat di pagi hari sangat penting untuk ku, agar aku sehat, kuat dan semangat sampai matahari kembali menyembunyikan sinar nya.

Pagi yang sangat istimewa, walau tanpa bubur nasi dengan taburan ayam yang menggiurkan, atau satu mangkuk bubur kacang yang aroma pandannya membuat perut semakin keroncongan. Meja kami hanya terisi dengan satu gelas teh manis hangat, yang dibuat dengan gula pasir dua sendok makan, satu teh celup bekas, dan air yang mengisi penuh pada gelas berukuran 15 centimeter. Menurut mu, apakah itu real satu gelas teh manis? Ah, bagi ku itu tetap teh manis walau tanpa rasa yang jelas.

“Bapak!” suara ku menggema mengisi seluruh ruangan yang hanya berukuran 3×3 meter.

“Ya, Nak?” Bapak terus saja sibuk mengikatkan tali sepatu milik ku, sepatu yang mungkin saja jika terkena hujan akan bobol.

“Aku boleh mengajukan permohonan?” ujar ku padanya.

“Tentu saja, apapun yang tuan putri inginkan, akan saya kabulkan” kata bapak sembari berlaga seperti pelayan kepada putri raja.

“Aku ingin sarapan dengan roti yang dibalut dengan keju, lalu didalam roti tersebut berisi telor ceplok yang di goreng sempurna, dihiasi oleh mayonnaise dan sedikit saus tomat, jangan lupa tambahkan daging sapi juga”

“Pada pagi hari, tenaga kita masih terjaga dengan baik, pikiran kita masih segar, maka pada saat itu kita akan semangat melakukan apapun, akan fokus terhadap semua aktivitas kita. Maka dari itu, bapak melarang mu sarapan dengan makanan yang tidak sehat, itu hanya akan membuat mu menjadi malas Nak” jelas bapak dengan nada yang merdu.

“Menurut bapak, teh celup bekas pun sehat?” aku menatap sebal saat bapak menjelaslkan hal tersebut setiap pagi.

“Hari sudah siang, cepat pergi ke sekolah nak, nanti kamu akan kesiangan”

“Hmm, baiklah”

“Belajar yang benar, jika kamu mendapat prestasi yang baik, akan Bapak belikan sepatu yang kamu inginkan”

“Sungguh?”

“Ya, tuan putri”

Hari yang sangat indah, setiap pagi aku selalu mendengarkan seluruh janji bapak untuk ku, janji untuk membelikan sepatu baru, tas baru atau sekedar makan siang di restoran mewah setiap akhir pekan. Walau hanya seutas janji, namun aku akan selalu bahagia bila mendengar hal tersebut dari Bapak.

Aku berlari gilang, berjoged riang, melambai-lambaikan tangan pada Bapak yang saat itu tengah memandang ku. Tarian sederhana yang ku lakukan untuk Bapak, membuat Bapak selalu semangat untuk kembali bekerja. Ya, setiap pukul 07.00 wib, aku terpisah dengan Bapak, dan akan kembali bertemu saat petang datang.

Andreana, sebuah nama singkat yang diambil dari bahasa yunani dengan satu arti, yaitu Tangguh. Nama yang Bapak ciptakan untuk ku, lima menit sebelum ibu akhirnya meninggal dalam proses persalinan ku dulu. Menurut cerita bapak setiap malam, ibu adalah orang yang sangat tangguh, sabar, dan sangat cantik.

Dahulu, ibu bekerja sebagai seorang baby sister disalah satu orang ternama di kota ini, bukan dalam kurun waktu yang singkat, melainkan dalam kurun waktu yang sangat lama ia mengabdi sebagai seorang baby sister. Namun, suatu hari terjadi insiden mengejutkan, ibu di tuduh dan dijerat hukum atas kasus kekerasan pada anak majikannya, padahal jelas sudah saksi dan bukti menunjukan bahwa ibu tidak bersalah. Kasus ini ditangani selama 3 (tiga) bulan, waktu yang sangat singkat yang akhirnya ibu di putuskan sebagai terpidana dengan hukuman penjara seumur hidup, saat itu kondisi ibu sedang mengandung ku, namun hebatnya ibu, ia berhasil memperjuangkan ku selama itu. Itulah alasan Bapak mengapa aku dinamakan andreana, agar aku menjadi seorang wanita yang tangguh seperti ibu.

Tidak berakhir disitu, setelah mengetahui bahwa ibu meninggal saat persalinan ku, penuntut mengajukan agar hukuman itu di timpakan kepada Bapak. Cerita yang sangat panjang menurut Bapak, tapi pada akhirnya Bapak hanya di minta uang untuk melepaskan hukuman tersebut, dengan nominal yang sangat tinggi. Itulah mengapa, setiap pagikami hanya bisa menikmati secangkir teh manis hangat, karena Bapak telah kehilangan segalanya. Bapak selalu berkata bahwa aku harus terus belajar hingga masuk ke perguruan tinggi, uang hasil dari Bapak bekerja, selalu Bapak simpan dengan baik untuk masa depan ku.

“Jadi cita-cita mu apa Nak?” tanya seorang guru bahasa indonesia saat kami di minta untuk memperkenalkan diri di hadapan siswa lainnya.

“Aku ingin menjadi seorang pengacara!” tegas ku saat itu setelah mengingat kembali cerita yang selalu membuat ku nyaris tak bisa bernapas.

“Kenapa alasannya?”

“Aku ingin mengusut kembali kasus tentang ibu, aku ingin kebenaran itu ada. Agar ibu tenang” ujar ku seraya menatap pilu.

Semua teman-teman ku termasuk bu Guru hanya memandang ku aneh, mereka tidak mengerti dengan apa yang sudah ku katakan. Tapi, inilah janji ku pada ibu, bahwa aku akan mencoba mengumpulkan bukti yang lebih banyak tentang kasus ibu, ibu tidak bersalah, ibu tidak bersalah, aku yakin itu.

Aku sempat berpikir bahwa cerita dalam sinetron terlalu mendramatisir semua tentang hukum, aku pun benci dengan hal itu dulu. Namun, setelah aku mengetahui semua tentang ibu, menurut ku ada benarnya juga dalam cerita tersebut. Terkadang, hukum tidak menjamin bahwa yang salah akan tetap salah, dan yang benar akan tetap benar.

Nominal uang selalu menjadi alasan utama lemahnya hukum, siapa yang berani bermain dengan hebat, maka dia yang akan memenangkannya. Lalu dimana kebenaran akan terungkap dengan baik, dan dimana kejahatan akan diberi hukuman agar menjadi jera. Hal ini seperti bermain dadu, siapa yang mendapat bilangan lebih banyak, maka dia yang memiliki kesempatan besar untuk menang.

Bicara tentang hukum yang berlaku, selera makan ku selalu saja hilang. Aku selalu membayangkan jika saja ibu tidak menerima hukuman yang seharusnya tidak ia terima, mungkin ia akan bahagia melalui hari-hari saat mengandung ku dulu. Setidaknya, saat membayangkan wajah ibu, mata ku tidak selalu sembab setelahnya. Ah ibu, aku rindu.

 

***

 

“Bapak, apa kah bapak rindu terhadap ibu?” tanya ku saat kami hendak tidur. Seperti biasa, tugas Bapak adalah menceritakan kisah tentang kancil dan buaya.

“Tidak” tegas Bapak.

“Bapak berbohong”

“Bapak tidak berbohong, setiap Bapak melihat mu, seakan Bapak melihat ibu mu juga”

Aku terdiam, memandang wajah Bapak yang seakan menyimpan sejuta cerita, tentang rindu, tentang kebersamaan, tentang ketidak adilan, dan tentang sebuah perjuangan, untuk ku. Bapak selalu berkata, bahwa suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang pengacara hebat seperti apa yang aku impikan.

Aku selalu bahagia, saat aku sadar bahwa aku memiliki harta yang paling berharga, yaitu Bapak. Ia bisa menjalani hidup dengan dua peran, sebagai seorang Bapak yang baik, juga sebagai seorang ibu yang baik. Aku tidak keberatan dengan teh manis hangat yang Bapak sajikan setiap pagi, asalkan itu dari tangan Bapak, sudah membuat ku jauh lebih baik.

 

***

Hari semakin gelap, sepertinya awan akan menumpahkan kesedihannya malam ini, sama hal nya seperti ku, membayangkan wajah pilu Bapak, membayangkan tubuhnya yang dulu tegar kemudian menjadi lusuh.

Aku meraih sebuah boneka kecil yang terletak di samping ku, boneka pemberian dari Bapak tempo lalu, boneka bekas yang Bapak beli dari penjual barang rongsok. Kata Bapak, walau pun boneka ini adalah barang bekas, tapi boneka ini bahkan lebih baik dari pada boneka yang lainnya. Sampai saat ini, aku belum mengerti maksud dari perkataan Bapak tempo lalu. Hanya saja, saat itu adalah hari ulang tahun ku.

Bapak berusaha membuat hari ku menyenangkan, dengan membelikan tas baru, sepatu baru dan boneka baru, walau Bapak membelinya dalam keadaan barang bekas, tapi tidak masalah untuk ku, karena pada saat itu, aku merasa bahwa Bapak menepati semua janjinya.

“Ayo kita makan di lerstoran mewah tuan putri” ujar bapak pada ku.

“Bapak punya uang?”

“Banyak, uang Bapak sangat banyak nak” Bapak menjawabnya dengan rawut wajah yang sangat bahagia.

“Ini kah lestoran mewah yang Bapak maksud?” aku melirik lingkungan sekitar, sesaat setelah aku memasuki sebuah rumah makan sederhana.

“Ya Nak”

Saat itu, aku marah pada Bapak, aku menuduh bahwa Bapak mengingkari janjinya, aku mengutuk diri ku sendiri, aku membuat kesedihan dan penyesalan terbesar dalam hidup ku. Dengan sabarnya Bapak menjelaskan hal-hal yang tidak ku sukai, tentang hidup, tentang perjuangan, dan tentang rasa syukur.

Matahari tenggelam dengan indah, sama seperti hal nya Bapak, ia telah selesai menunaikan kewajibannya, ia telah menjaga ku sampai aku masuk keperguruan tinggi, ia mengorbankan seluruh kebahagiannya demi diri ku, yang selalu ku ingat dari Bapak adalah tentang bahagia ku adalah bahagia nya, mana mungkin? Tapi semua itu adalah benar.

Rumah kecil pemberian dari Bapak, boneka monyet yang Bapak berikan, sepatu baru, dan tas baru kini menjadi obat hebat dari ribuan rindu yang bersarang dalam dada ku. Aku, menikmati malam bersama kenangan tentang Bapak.

Oktober 2008, aku resmi menjadi seorang pengacara.  Janji ku sudah ku tunaikan, dengan banyak nya bukti, aku berhasil memenangkan di meja persidangan, dan ibu dinyatakan tidak bersalah, kerugian yang Bapak tanggung, mereka kembalikan dengan nominal yang sama.

Aku menyeka air mata ku berkali-kali, membayangkan bahwa Bapak dan Ibu sedang memeluk ku saat itu, mereka berbisik bahwa kebenaran akan tetap ada, kebenaran tidak akan pernah kalah dengan kebohongan, penipuan, dan pengkhianatan.

“Jadilah seseorang yang berguna, yang tidak bisa di hargai dengan hanya nominal uang saja. Kamu tahu nak, sarapan pagi dengan segelas teh manis hangat lebih baik jika ia berasal dari uang yang halal, dari pada harus menikmati sarapan mewah karena hasil dari pembodohan, dan penipuan”nasihat bapak kepada ku.

Malam ini, saat tetes air hujan membasahi setiap jalanan, aku menyadari bahwa terkadang kemewahan tidak banyak memberikan sebuah kebahagian, ia hanya memberikan tentang kepuasan semata. Dan tentang Bapak, ia menjadi tokoh terhebat dalam perjalanan hidup ku.

 

***

“Menurut Bapak, apakah kasus baru ini bisa ana tangani dengan baik?”

“Hmm, ana pasti bisa kan Pak! Oke, karena pagi ini ana sudah sarapan secukupnya, jadi ana akan bersiap untuk segera pergi. Tenang saja, ana akan tetap menjadi pengacara yang jujur. Bapak tidak perlu khawatir. Dan, tentang perjuangan Bapak dulu. Terima kasih. Ana sangat mencintai Bapak” jelas ku sembari memandang foto Bapak.

Inilah cara ku melepas rindu tentang Bapak, tentang tarian sederhana untuk Bapak setiap pagi, tentang teh manis hangat yang Bapak buat untuk ku, tentang tas baru dan sepatu baru, juga tentang kenangan kita di restoran mewah saat ulang tahun ku.

Semuanya sangat indah dan sempurna, seperti ingin ku putar terus kejadian bersamanya dulu, seperti ingin ku ulangi menjadi gadis kecil yang menemani Bapak setiap waktu, begitu pun Bapak menemani ku setiap detik.

Tentang Bapak, aku rindu dengan kenangan ketika aku tertidur disudut mana pun rumah. Namun pagi nya, aku selalu bangun diatas tempat tidur yang empuk.

 

Karya : RRJ (Riana Ratno Juwita)

Secangkir Kopi Milik Kita

“Sret”

“Sret”

“Sret”  Goresan pulpen pada kalender membuat ruangan terisi dengan bunyi yang keluar dari gesekan pulpen tersebut.

Mentari mulai naik, namun suasana kamar andre masih saja sama. Berada dalam suasana yang membuat ia malas untuk sekedar beranjak dari tempat tidur miliknya.

“Lu lagi apa sih, kagak ada kerjaan banget!” ujar andre kepada andi yang sedang sibuk mencorat-coret sebuah kalender.

“Berhitung” jawab andi dengan singkat.

“Tiap bulan kalender gua ancur gara-gara coretan lu itu!”

“Lu beli kalender 5.000 doang elah, ini pun kalender gratis dapet dari kantor lu. Perhitungan sekali!” Andi membanting kalender yang saat itu ia genggam, lalu perlahan ia mulai berbaring di dekat tubuh andre yang sedari tadi berselimut tebal.

“Ndre” nada andi terdengar sedikit berat.

“Hmmm” geram andre.

“Umur lu udah 30 tahun bro”

“Ya, ter            us apa masalahnya?” tanya andre seraya tetap bertahan dengan bantal yang ia tutupkan pada wajahnya.

“Sampai kapan ndre, sampai kapan lu mau terus sendiri seperti ini. Lu kagak bosan hidup sendiri bertahun-tahun. Kerjaan lu udah oke, tampang udah gak usah di tanya lagi, banyak pula wanita yang naksir sama elu. Lu kagak bosan setiap hari seperti ini, gua aja bosan setiap hari coret-coret kalender lu supaya lu sadar bahwa lu menjomblo udah selama ini!” jelas andi kepada andre.

“Tiap hari kerjaan lu cuma coret-coret kalender gua doang, Cuma buat ngitung seberapa lama gua menjomblo. Dari pada sibuk kagak jelas, mending lu urus aja acara nikahan lu minggu depan”

“Bukan itu masalah gua ndre. Soal pernikahan gua sama ica udah ada yang urus. Jadi gua ya santai aja” ucap andi pada andre.

“Ohhhh begitu, udah hapal apa aja yang mau lu ucapin pas akad?” suara andre terdengar jelas walau wajahnya masih tertutup dengan bantal.

“Eh. Ndre, bangun ndreeeee. Lu harus ajarin gua buat akad nanti. Please, waktunya tinggal satu minggu lagi ndre!” seketika andi panik sembari terus menggoyahkan posisi tidur andre.

“Ndre bangun ndre, gua gamau nikahan gua ama ica sampe gagal gara-gara kagak lacar pas akad” andi masih terus berusaha membangunkan andre.

“Andreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!!”

***

Pagi memang akan selalu indah bila tanpa andi. Oke, namaku andre. Lahir dari keluarga blasteran, aku bekerja disalah satu perusahaan termana di kota ini, orang bilang hidup ku sudah sangat sempurna, dengan jabatan kerja yang terbilang menjamin masa depan ku, lalu fasilitas apartement mewah yang ku beli dari gaji ku sendiri, dan kendaraan yang selalu menemani perjalananku, sebuah motor metic.

Ya, hanya motor metic biasa. Banyak orang berpikir bahwa aku akan membeli mobil mewah setelah aku menduduki jabatan baru ku. Bagi mereka, kemewahan adalah segalanya. Tapi bagiku, selama aku tidak bisa menikmatinya. Semua bagaikan sia-sia. Aku mencintai motor metic ku ini, yang terbilang umurnya sudah sangat tua, ia menemani perjalanan hidup ku sejak dulu.

“Mau kemana lu jam segini?” teriak andi pada ku yang sedang sibuk me-lap motor metic milikku.

“Cari udara” jawabku singkat.

“Cari jodoh sekalian lu kampret!” teriak andi seraya berlari pergi.

Ya, andi adalah sahabat ku sejak kecil. Mulai dari TK, kemudian SD, SMP, SMA sampai bangku perkuliahan hidup ku selalu saja berurusan dengannya. Walau pun begitu, andi sudah masuk kedalam salah satu keluarga baru untuk ku. Dia tipikal orang yang aneh, orang yang sangat tidak perduli dengan kesehatan ku, dengan keadaan ku, tapi hanya satu hal yang menjadi sumber perhatian diri ku didalam hidupnya.

“Gua pusing liat lu jomblo” itulah yang selalu andi khawatirkan tentang ku. Dia bekerja dikantor yang ku pimpin, dan andi menempati posisi tim redaksi. Kebiasaannya adalah membuat apartement ku seperti kapal pecah, mencorat-coret kalender milik ku setiap pagi, dan satu hal lagi,  ia selalu menggunakan boxer milik ku. Tapi semua keanehan itu bukanlah hal yang akan membuatku membencinya, bahkan saat aku menyadari bahwa andi akan segera menikah, aku berpikir. Apakah aku akan kehilangan andi? Hahaha.

Motor metic ku lajukan dengan kecepatan tinggi, menerobos tiap mobil yang mulai antri, inilah alasanku tidak ingin menggunakan mobil, karena aku benci sekali dengan kemacetan. Mentari mulai bersinar cerah, aku menikmati pagi ini, hari libur selalu membuat ku bahagia.

Sejujurnya kota ini membuatku penat setiap hari, aku bahkan tidak bisa menikmati hijaunya daun, tidak bisa menikmati segarnya embun, tapi aku tetap saja bersih kukuh bertahan di kota ini. Hanya karena satu hal, aku ingin mencari sesuatu yang telah hilang.

“Saya pesan ini mbak”

“Kopi Wamena satu ya mas, ditunggu pesanannya” pelayan cafe mengulang pesananku.

Seperti biasa, aku akan selalu pergi ke tempat ini untuk sekedar menikmati secangkir kopi, melepas sedikit rasa penat ku. Lalu memandang setiap pasangan yang pergi ke tempat ini untuk sekedar menikmati kopi bersama. Romantis sekali bukan.

“Kopi wamena nya mas, silahkan di nikmati” ujar pelayan cafe kepadaku setelah menunggu beberapa menit.

“Kopi wamena berasal dari tanah papua, jenisnya arabica. Karakter rebusannya asam dan berbeda dengan kopi Robusta yang rasanya lebih pahit. Kopi wamena tidak terlalu pahit karena memang arabica memiliki kadar kafein yang rendah. Aromanya yang harum seperti wangi tanah bercampur kayu lapuk terkena hujan membuat kita terkadang sangat menikmatinya. Itulah hebatnya kopi wamena” jelas seorang wanita bertubuh tinggi, dengan jilbab sederhana yang melekat dikepalanya, yang saat ini duduk di bangku milikku.

“Kopi toraja satu mbak, untukku” teriak wanita itu pada pelayan cafe.

“Karena bangku lain sudah penuh, saya numpang duduk disini ya mas?” ujarnya padaku, aku masih saja mengamati wanita ini.

“Bolehkan?” tangannya yang mungil mulai melambai-lambai dihadapan wajahku.

“Oh ya, jelas boleh sekali. Suka sekali dengan kopi mbak?” tanyaku padanya.

“Engga, tapi saya suka banget haha”

“Oh hehe pantes sampai hapal detail tentang kopi”

“Tidak begitu banyak. Oh ya, namaku anne. Aku bekerja sebagai penulis lapas, tidak jarang aku memasukan karya-karya ku ke redaksi majalah” jelasnya padaku, aku hanya diam mengamati dirinya yang terus saja berbicara.

“Ini kopi nya mbak” Pelayan cafe segera menaruh kopi miliknya.

“Oke, terima kasih untuk tumpangannya. Sampai jumpa” katanya padaku.

Seketika ia melesat pergi begitu cepat, aku masih saja terdiam mengamati punggungnya yang mulai hilang dari pandanganku.

“Arghhh bloon sekali diriku ini. Kenapa gak gua tanya no hpnya!”

Setelah melewati kesempatan yang seharusnya tidak aku lewati, aku memutuskan untuk segera kembali ke apartementku. Melajukan motor dengan kecepatan tinggi, menikmati setiap hembusan angin dan sengatan terik matahari.

 

***

Hari yang sangat berharga telah berlalu, kehidupan kembali berjalan normal. aku masih saja sibuk memutar-mutar arah jarum jam yang ku rusak pagi tadi, suasana kantor hari ini sangat sibuk. Mungkin karena hari ini adalah hari senin.

“Ini cetakan majalah kita bulan ini” andi masuk kedalam ruanganku dan menyodorkan satu majalah yang telah terbit.

“Bagus!”

“Lu kagak mau lihat itu majalah?”

“Gua udah baca sebelum terbit” ujarku padanya.

“Baca lagi, ada satu yang lu lewati”

“Kagak”

“BACA” andi ngotot padaku.

“Gua bilang kagak!”

Dengan kesal andi meraih majalah dan ia buka, tangannya mulai membuka lembaran terakhir. Lalu nafasnya sedikit berat, seakan ia ingin membacakan mantra terhebat yang ia lihat didalam majalah yang ia genggam.

“Kopi, selalu menjadi bahasan yang paling aku suka. Dari rasanya yang pahit, kemudian manis dan sedikit asam. Mungkin boleh jadi, perpaduan rasa tersebut sama dengan kehidupan. Jika tidak dinikmati, sulit rasanya menemukan satu rasa yang luar biasa didalamnya. Kutipan pertama dari penulis lapas bernama anne dengan judul MyCupOfStory!” jelas andi padaku.

“Anne?” aku nyaris kaget saat mendengar nama itu.

“Ya, kemarin malam lu cerita sama gua soal cewek yang bertemu dengan lu di cafe. Dan saat gua liat nama ini rasanya mungkin saja dia anne yang kemarin bertemu dengan lu”

“Yap kagak salah lagi, gua yakin itu dia”

“Bagi gua kontak personnya!” pintaku pada andi.

“Jangan asal temui dia, bisa kagak nyaman dia sama elu. Tadi gua udah telepon tuh cewek buat janjian di tempat biasa lu ngopi, gua bilang kalau honornya akan gua berikan langsung”

Andi terkadang memang sangat berguna dilain waktu, itu mengapa aku masih saja memberikan predikat sahabat terbaik sepanjang masa, karena ia selalu saja memberi solusi disaat seperti ini. Aku mulai bergegas melajukan motorku untuk menemui wanita itu, merapihkan rambutku dengan lima jari.

Langkah kaki ku mulai memasuki isi ruangan cafe yang tetap ramai walau pun di hari kerja, mataku terus saja mencari sosok wanita bertubuh tinggi itu, dan rupanya ia sudah menungguku disalah satu bangku.

“Mbak anne?” ujarku padanya.

“Hmm, ya. Siapa ya?” tanya anne padaku.

“Saya andre” seraya menunjukan kartu tanda pengenalku.

“Majalah Blue” ia membaca dengan teliti kartu tanda pengenal yang ku berikan.

“Oh mas andre dari redaksi Blue ya”

“Yap. Maaf membuat mbak anne menunggu lama” ujarku seraya merapihkan posisi dudukku.

“Tidak apa-apa. Saya senang sekali tulisanku bisa dimuat dimajalahnya”

“Itu karena tulisanmu menarik, indah dan tersusun untuk dibaca, bahasanya tidak terlalu berat untuk di mengerti” jawabku padanya, padahal aku pun belum membaca tulisan miliknya, semua ini berkat andi.

“Oh ya, terima kasih banyak” ia tersenyum seraya meneguk kopi yang telah ia pesan.

“Ini honor untuk tulisanmu, bulan depan coba saja masukan lagi tulisan mu ya” aku mulai mencari cara untuk tetap bisa bertemu dengannya.

“Siap haha. Oh ya, rasanya saya pernah melihat mas andre. Tapi kapan ya, dan dimana?” anne mulai berpikir, mengingat-ngingat wajahku yang lucu ini.

“Oh ya, saya ingat. Ini mas yang dulu tempat duduk nya saya tumpangi kan?”

“Yap” aku hanya tersenyum seraya memandangnya.

“Haha bisa kebetulan sekali ya. Oh ya, mas andre tidak pesan kopi?”

“Sudah pesan tadi, tapi kopi wamena nya habis”

“Kenapa tidak pesan kopi yang lain saja?” tanya anne padaku.

“Tidak begitu suka”

“Mas andre belum coba kopi toraja?”

“Pernah sekali, tapi tetap saja rasanya sedikit berbeda”

“Hmm, kalau begitu coba lagi saja sekarang. Tapi minumlah dengan cara yang benar”

“Maksudnya?” tanyaku pada anne yang rawut wajahnya mulai serius.

“Ya, setiap kopi itu rasanya berbeda, memiliki ciri khas khusus pada tiap kopi. Tapi bagaimana pun, kopi itu akan selalu memiliki rasa yang luar biasa jika kita menikmatinya” jelasnya padaku.

“Cobalah kopi toraja milikku” suruhnya sembari menyodorkan kopi miliknya.

“Itu kopi milikmu, minum saja. Aku akan pesan”

“Tidak usah, minum saja dulu kopi milikku. Kalau langsung pesan dan mas andre tidak suka, mubadzir kopinya nanti terbuang hehe”

Tanpa pikir panjang, aku langsung saja meneguk kopi miliknya. Meneguknya secara perlahan, menghirup aroma kopinya. Dan  benar kata anne, bahwa setiap kopi itu memiliki rasa yang berbeda. Terutama rasa pada kopi miliknya, milik anne.

 

***

 

Satu tahun berlalu, setelah pertemuan di cafe. Aku mulai menyukai kopi toraja, terutama jika kopi itu adalah milik anne. Rasanya seakan berbeda, bahkan saat ini jika setiap orang bertanya kopi apa yang paling aku sukai, aku akan menjawab bahwa aku sangat menyukai kopi toraja dari pada kopi wamena.

Karena saat aku menikmati kopi toraja, aku merasa seakan anne hadir saat aku menikmati kopi tersebut, seakan aku melihat senyumnya, seakan aku melihat tawa renyahnya. Setelah pertemuan itu, aku dan anne tidak jarang menikmati kopi secara bersamaan, menjelajahi kota ini, membaca setiap tulisan-tulisannya.

Bagiku, anne adalah wanita yang unik. Penikmat kopi, penyuka tulisan-tulisan sederhana, sikapnya yang ramah terkadang membuat suasana selalu terasa hangat jika dengannya, dan menjadi beku saat ia kembali melangkah pergi. Sama halnya seperti hari ini, 360 hari  yang ku lalui tanpa anne, rasanya benar-benar berbeda.

Setelah satu bulan perkenalanku dengan anne dulu, aku mulai melamar dan menikahinya, memutuskan untuk menikmati masa depanku dengannya, karena pada saat aku bertemu dengan anne, aku seakan menemukan sesuatu yang hilang itu, yang telah lama ku cari, yaitu sepotong hati milikku yang ada pada diri anne.

“Kopi milik mu, tanpa banyak gula”

Itulah kata yang selalu ku dengar setiap pagi saat anne menyajikan kopi untuk ku, kopi terbaik yang pernah ku nikmati adalah kopi yang tersaji dari tangan istri ku sendiri, bagaimana pun rasanya, kopi terbaik adalah kopi yang anne sajikan setiap pagi, kopi tanpa banyak gula.

Hebatnya, selain kopi. Aku pun menjadi senang menulis seperti anne, karena pada saat aku mulai merangkai kata-kata, seakan anne hadir dalam jiwaku, seakan ia duduk disampingku. Anne merubah segalanya yang sederhana menjadi sangat berharga.

“Kopi toraja nya mas” ujar pelayan cafe kepadaku seraya menaruh kopi yang telah ku pesan.

“Terima kasih mbak”

“Ndre, tulisanmu di muat dimajalah lain” kata andi padaku.

“Ya aku sudah tahu”

Kopi terbaik  dalam hidupku adalah kopi yang tersaji dari tangan mungilmu. Gila, tulisan awalnya ngena banget haha” andi membacakan tulisanku yang dimuat dimajalah lain.

“Sabarlah, karena kesabaran adalah kunci kehidupan. Setiap pertemuan, pasti akan berujung dengan perpisahan. Hanya saja, kita tidak tahu percis kapan waktunya. Anne telah bahagia disisi-Nya bukan?”

“Ya. Anne telah bahagia disisi-Nya” ujarku pada andi seraya mulai menikmati kopi milik ku.

 

 

Karya : Riana Ratno Juwita

 

Note : Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen #MyCupOfStory diselenggarakan oleh Giordano dan NulisBuku.com

nulis.jpg

“Catatan Kecil Ten”

Pada akhirnya, pemeran utama dalam hidup kita adalah diri kita sendiri.

Namaku Ten, aku termasuk orang yang supel, mudah bergaul, temanku banyak dimana-mana. Sehingga terkadang apa yang aku inginkan akan mudah untuk aku dapatkan. Tidak perlu usaha yang berlebihan seperti merek-mereka di luar sana.

Dan,

Seiring berjalannya waktu,

Umurku terus saja berubah, dunia semakin nyata di mata ku. Setiap detik, waktu terasa berjalan lambat kini, tidak seperti biasanya. Dan aku, belum juga menyadari hal itu.

Diam dalam keheningan, enggan untuk menyadarkan diri. Bahwa kitalah pemeran utama dalam diri kita sendiri.

Aku pernah berikrar hebat setiap masa, bahwa aku akan berjalan beriringan bersama semua teman-temanku. Tidak perduli berapa besar badai yang menghadang.

Merasa tenang,

Merasa damai,

Namun semakin hari perubahan itu semakin jelas.

Seakan mulai sepi.

Dan aku tahu,

Aku terlena dengan kenyamanan, hingga lupa bahwa hidup sepenuhnya adalah milikku. Lambat laun, yang kemarin ku katakan sahabat ia pun mulai tenggelam dalam kesibukan dan cita-citanya. Tapi aku, tidak menyadari hal itu. Masih saja terlena dan bertanya “Ada apa?” dan “Mengapa?”.

“Nak, teman itu hanya sebatas teman. Teman berbagi cerita, atau sekedar ngopi-ngopi saja” ujar ayahku.

“Lalu?” tanyaku padanya.

“Hidup sesungguhnya akan seperti ini, kau berjalan sendiri, menggapai apa yang kau sebut cita-cita dan harapan. Lalu, teman mu akan melakukan hal yang sama, sehingga sudah saatnya kalian berjalan masing-masing. Dahulu adalah sebuah masa untuk kau kenang dengan baik, esok lusa kau akan berkumpul kembali dalam masa yang berbeda”

Masa akan terus berubah, dan perubahan baik ada ditanganku.

Aku menyadari akan satu hal, bahwa pada kenyataannya. Kita hanya memiliki satu teman nyata dalam hidup kita. Teman yang tidak akan pernah meninggalkan kita baik dalam keadaan susah atau pun senang, teman yang senantiasa menerima kita kembali sekali pun kita melupakannya., teman terbaik sepanjang masa adalah Dia, Sang Pencipta.

I Believe, one day the dream will become a wonderful reality.

Itulah yang aku yakini saat ini, saat dimana aku mulai berjuang untuk dua malaikat hebatku, untuk sebuah senyum mereka. I Believe.

(QS. Al Baqarah : 216)

Riana.rj _MITRA VSI_ VP0186599

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216)

 

Dari setiap jalan yang telah terlewati, dari ribuan detik dan menit yang ku lewati, baru kali ini aku tahu pahitnya berharap kepada selain-Mu. Berharap penuh, meyakini dan percaya bahwa kekecewaan itu tidak akan menjadi milikku. Katakanlah, aku hanya gadis sederhana yang baru saja mengenal kata yang sering mereka ucapkan dengan mudahnya. Dan aku, jangankan mengatakan, menulisnya saja bagai tangan ini kaku seribu bahasa.

Kesadaran terbesar seseorang adalah saat diri mereka mengalami hal yang bernama kekecewaan, entah itu harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, entah itu janji yang hanya terucap tanpa pernah ditepati, atau apapun segala bentuk kecewa. Ya, pada saat itulah titik dimana semua orang akan paham tentang perasaan yang seharusnya tidak kita tumbuhkan untuk saat ini, saat diri masih perlu diperbaiki lagi dan lagi.

Seseorang pernah berkata kepadaku ; “Maybe it’s hurt, but you already knew that Allah love you more. Dont be sad, cheer up dear. It’s you’r choice, move on or just pray and let Allah choosen the right one to you”

Kata-kata yang menjadikanku kuat dan terus berpikir untuk tetap maju. You must go on, ini terlalu cepat untuk dialami. Sungguh, tidak ada keinginan merasakan hal yang tidak pernah aku duga.

Kau tahu, sabar itu memanglah tidak ada batasnya. Sabar adalah anugerah yang Tuhan berikan untuk kita. Tapi kesabaran seseorang selalu bertemu dengan puncak lelahnya. Ada yang bersabar untuk tetap bertahan pada harapannya. Atau bisa jadi ada yang bersabar untuk menjalani kekecewaannya setelah sekian lama bertahan.

Titik inilah yang bisa dikatakan bahwa Allah sedang memanggil dan mengulurkan tanganNya untuk kita. Kembali kepada tauhidNya, kembali kepada cintaNya, dan keimananmu akan bertambah.

            Aku telah lalai selama ini, meninggalkan begitu lama Rabbku, membiarkannya cemburu dan merindu. Yang ku tahu dulu hanyalah bagaimana caraku agar rinduku kepada hambaNya dapat tersalurkan, entah dengan bertemu atau sekedar bertegur sapa melalui telepon genggam.

 

 

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia” (Ali bin Abi Thalib)

Dan ku pikir itu adalah benar, kepahitan yang paling mengusik semua pikiran hanyalah pahit akan berharapnya kepada manusia. Kecewa yang tidak pernah bisa diungkapkan, sakit yang tidak pernah bisa dijelaskan, dan apapun perasaan itu adalah hal yang pasti akan mengusik semua pikiran baik didalam diri manusia.

Jika semua sudah terjadi, apa yang harus kita lakukan?

            Kembalilah kepada Allah. Sungguh, dia amat sangat merindukanmu. Dia rindu akan munajatmu pada sepertiga malam, dia rindu akan tangismu mengingat dosa-dosamu, dia rindu bertemu denganmu, wahai hamba Allah yang saat ini tengah disibukan dengan perasaan itu.

Allah ingin kau kembali kepadaNya, berharap penuh hanya kepadaNya. Bukankah tugas kita adalah memperbaiki diri, memantaskan diri, meluruskan niat, maka setelah itu biarkan tangan Tuhan yang bekerja dengan baik. Janji Allah itu pasti, janji dari Sang Pemegang Janji.

Maka untukmu yang pernah dikecewakan, untukmu yang pernah ditinggalkan, untukmu yang saat ini tengah dirundung kesedihan. Percayalah, ini hanyalah pengalihan Rabb yang sedang merindukanmu, Ia ingin kau kembali, Ia tidak ingin melihatmu terlalu jauh tersesat. Biarkan sakitmu ini sebagai penggugur dosa-dosamu.

Dan jadikan doa sebagai obat dari sekian banyak duka, doakan tetap yang terbaik untuk siapapun dia, doakan dengan ikhlas, agar Rabb mengabulkan dan agar malaikat meng-Aamiinkan, hingga doa baik tersebut akan kembali kepadamu. Suatu saat nanti.

Be a strong, Allah with me or with us.

 

 

By : Riana Ratno Juwita